Selamat Datang |  Login


Tanggapan Siapa yg SALAH kaprah ttg SUBUH?! (6-h)



Abu Hamzah al Sanuwy

Ustadz Ad-Dariny berkata:

5. Al-Alusi dalam tafsirnya mengatakan:

الخيط الأبيض وهو أول ما يبدو من الفجر الصادق المعترض في الأفق قبل إنتشاره

“Al-Khoitul Abyadh” adalah awal munculnya fajar shodiq yang mendatar di ufuk, sebelum sinarnya menyebar. (Tafsir Ruhul Ma’ani, 2/66)

Tanggapan Abu Hamzah:

a. sekedar untuk pengingat, tafsir Ruhul Ma'ani adalah karya Mufti Baghdad Abu al-Tsana` Syihabuddin Mahmud al-Alusi al-Jadd (1270 H) yang selesai ditulis 7 tahun sebelum kelahiran cucunya yaitu abul Ma'ali Mahmud Syukri ibn Abdillah ibn Mahmud al-Alusi yang lahir 1273 H dan wafat 1342 H.

b. Terjemahan kata mu'taridh yang benar adalah "yang membentang di ufuk", bukan yang datar di ufuk (begitu pula terjemahan mustathir bukan mendatar tetapi menyebar).

c. Ucapan al-Alusi ini mirip dengan ucapan al-Razi, bisa dibenarkan jika nampak terang oleh mata, jika tidak maka menyalahi al-Qur`an, sunnah dan ijma' salaf, sebagaimana di atas.

d. al-Aluasi sendiri telah mengisyaratkan kepada hal itu saat dia berkata setelah itu:

واستدل بها أيضا على جواز الأكل مثلا لمن شك في طلوع الفجر لأنه تعالى أباح ما أباح مغيا بتبينه ولا تبين مع الشك خلافا لمالك واستدل بها على عدم القضاء والحال هذه إذا بان أنه أكل بعد الفجر لأانه أكل في وقت أذن له فيه

"Dan diambil petunjuk dari ayat itu atas bolehnya makan misalnya bagi orang yang ragu-ragu tentang terbitnya fajar, karena Allah swt membolehkan apa yang Dia bolehkan dengan batasan sampai nampak terang, tentu tidak nampak terang jika ragu, berbeda dengan Malik, dan diambil petunjuk darinya atas tidak adanya qadha` dalam kondisi (ragu) ini jika ternyata dia makan setelah fajar, karena ia makan di waktu yang diizinkan baginya di dalamnya."[1]

6. Dari ulama kontemporer, Syeikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin:

ومن فوائد الآية: أن الاعتبار بالفجر الصادق الذي يكون كالخيط ممتداً في الأفق

Diantara pelajaran dari ayat ini, bahwa fajar shodiq yang mu’tabar adalah fajar shodiq yang seperti benang memanjang di ufuk. (Tafsir Syeikh al-Utsaimin 4/289)

Tanggapan Abu Hamzah:  

Ada banyak ucapan beliau yang menjelaskan pengertian fajar shadiq menurut beliau misalnya:

-         وهو تبين ضوء الشمس في الأفق (مجموع فتاوى ورسائل 12: 234)

Yaitu nampak terangnya sinar matahari di ufuq." (Majmu' Fatawa wa Rasail: 12/234)

-         من طلوع الفجر الثاني وهو البياض المعترض في الأفق الشرقي الذي ليس بعده ظلمة إلى طلوع الشمس (مجموع فتاوى ورسائل 12: 236)

"Dari terbitnya fajar kedua yaitu cahaya putih yang membentang di ufuq timur yang tidak ada gelap sesudahnya hingga terbitnya matahari." (Majmu' Fatawa wa Rasail: 12/236)

-         ثم هم أعني هؤلاء المؤذنين قبل الفجر يقولون: نحن نحتاط.
نقول: تحتاطون أكثر مما احتاط الله لعباده، إن الله تعالى يقول: {وكلوا واشربوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ } فلابد أن تتبين الفجر، حتى التعبير القرآني لم يقل: حتى يطلع الفجر، بل قال: {حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين 19/226-227

"Kemudian mereka, maksud saya para muadzin sebelum fajar itu berkata: kami melkukan kehati-hatian. Maka kita katakan: kalian berhati-hati lebih dari yang Allah telah tetapkan untuk para hamba-Nya. Sesungguhnya Allah berfirman: ((Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.)) Jadi harus nampak terang fajar itu, sampai ungkapan al-Qur`an tidak mengatakan "hingga muncul fajar" tetapi ,emgatakan " hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam." (Majmu' Fatawa wa Rasail 19/226-227)

-         أما وقت الفجر فإنه من طلوع الفجر الصادق وهو البياض المعترض في الأفق إلى طلوع الشمس والفجر فجران فجر كاذب وفجر صادق ولكل منهما علامة أما علامة الفجر الصادق فهو أنه يمتد من الشمال إلى الجنوب ويملأ الأفق الشرقي ولا ظلمة بعده وأما الفجر الكاذب فإنه يمتد طولاً من المشرق إلى المغرب ويكون بعده ظلمة وهذا لا عمل عليه وإنما العمل على طلوع الفجر الصادق

Adapun waktu fajarmaka ia dari munculnya fajar shadiq yaitu cahaya putih yang membentang di ufuq hingga terbitnya matahari. Fajar itu ada dua: fajar kadzib dan fajar shadiq. Masing-masing memiliki tanda. Adapun tanda fajar shadiq maka ia memanjang (membentang) dari utara ke selatan dan memenuhi ufuq timur, serta tidak ada kergelapan sesudahnya. Adapun fajar kadzib maka ia memanjang dari timur ke barat dan sesudahnya ada kegelapan. Ini tidak ada kaitannya dengan amal. Sesungguhnya amal itu terkait dengan terbitnya fajar shadiq."[2]

 



[1] Kitab Ruhul Ma'ani di http://www.islamww.com/booksww/book_larg_text.php?pageNum_rs_rtb_text=1&totalRows_rs_rtb_text=6751&bkid=12




Komentar
 
Nama
Email
Komentar
 
Copyright © 2010 Qiblati · Kontak · Syarat & Kondisi
Halaman ditampilkan selama 0.0785detik · menggunakan resource memory sebesar 1.9MB