Selamat Datang |  Login


Tanggapan Siapa yg SALAH kaprah ttg SUBUH?! (6-e)



Abu Hamzah al Sanuwy

Ustadz Ad-Dariny berkata:

 

Lalu bandingkanlah pendapat ulama yang mengatakan waktu subuh kita terlalu cepat, dengan pendapat mayoritas ulama yang datang sebelum mereka berikut ini:

 

1. Ucapan Ahli Tafsir terkemuka, Abu Hayyan Al-Andalusi -rohimahulloh-, ketika beliau menafsiri ayat Al-Baqoroh: 187:

 

وشبه بالخيط, وذلك بأول حاله, لأنه يبدو دقيقا, ثم يرتفع مستطيرا, فبطلوع أوله في الأفق يجب الإمساك, هذا هو مذهب الجمهور, وبه أخذ الناس, ومضت عليه الأعصار والأمصار, وهو مقتضى حديث ابن مسعود وسمرة بن جندب

 

Fajar shodiq itu diserupakan dengan benang, dan itu saat awal munculnya, karena ia pada mulanya terlihat tipis, kemudian meninggi dan menyebar. Dan dengan awal munculnya di ufuk, orang yang berpuasa wajib berhenti makan, ini adalah pendapatnya mayoritas ulama, dipilih oleh orang-orang, dan telah berjalan di seluruh masa dan tempat. Dan inilah yang ditunjukkan oleh hadits Ibnu Mas’ud dan Samuroh bin Jundub. (Tafsir Al-Bahrul Muhith 2/216)

 

Tanggapan Abu Hamzah:  

 

a. Ucapan Abu Hayyan al-Andalusi al-Maliki tsumma as-Syafi'I (w. 754 H) dalam tafsirnya al-Bahrul Muhith  sesuai dengan al-Qur`an, sunnah dan ijma', perhatikan penjelasan Abu Hayyan lebih lanjut yang dikutip oleh Syaikh Abu Abdirrahman al-Darudi dalam kitabnya Awshaf al-Fajrain fil Kitab was-Sunnah, yang dimuraja'ah oleh Syaikh Ahmad Yahya al-Najmi:

 

وفي تعيينه إباحة المباشرة والأكل والشرب بتبين الفجر للصائم دلالة على أن من شك في التبين وفعل شيئا من هذه ثم انكشف أنه كان الفجر قد طلع وصام أنه لا قضاء لأنه غَيَّاهُ بتبين الفجر للصائم لا بالطلوع....

 

"Dalam penentuan-Nya tentang bolehnya jimak, makan dan minum dengan tabayyunnya fajar bagi orang yang berpuasa menunjukkan bahwa orang yang ragu tentang tabayyun  dan melakukan sesuatu dari ini kemudian terungkap bahwa ternyata fajar sudah muncul dan dia puasa maka tidak ada kewajiban qadha` karena Dia membatasinya dengan tabayyun al-fajr bagi yang berpuasa bukan dengan terbitnya itu sendiri,"

 

Kemudian Abu Hayyan setelah itu berkata:

 

وهذه التغيئة إنما هي حيث يمكن التبين من طريق المشاهدة فلو كانت مقمرة أو مغيمة أو كان في موضع لا يشاهد مطلع الفجر فإنه مأمورٌ بالاحتياط في دخول الفجر إذ لا سبيل له إلى العلم بحال الطلوع فيجب عليه الإمساك إلى التيقن بدخول وقت الطلوع استبراء لدينه اهـ

 

"Penetapan batas ini berlaku apabila dimungkinkan untuk tabayyun melalui musyahadah (melihat dengan mata). Jika malam sangat terang dengan rembulan atau mendung atau di tempat yang tidak bisa melihat terbitnya fajar maka ia disuruh  untuk berhati-hati tentang masuknya waktu, karena tidak ada jalan untuk mengetahui kemunculannya, maka wajib imsak hingga yakin akan masuknya maktu terbit fajar, agar terlepas dari tanggungan untuk agamanya."[1]

Jadi yang dimaksud dengan "awal kemunculannya" adalah yang tabayyun yang dilihat oleh kita pertama kali.

 

b. Bandingkan dengan ucapan turmudzi

 

(والعمل على هذا عند أهل العلم: أنه لا يحرم على الصائم الأكل والشرب، حتى يكون الفجر الأحمر المعترض. وبه يقول عامة أهل العلم).

 

“Pengamalannya atas dasar ini di kalangan para ahli ilmu; yaitu tidak haram atas orang yang berpuasa makan dan minum hingga fajar merah membentang. Ini dikatakan oleh segenap ulama.” (Hadits 705)

 

 



[1] www.ahlalhdeeth.com/vb/attachment.php?attachmentid=54950&d. kitab al-Bahrul Muhith bisa Anda baca di  http://www.islamport.com/b/1/tfaseer/



hasan mar'ie
[2010-01-05 16:55:36]

alhamdulillah semoga allah mebukakan pintu hati agar kita semua bisa merima kebenaran dgn ilmu dan lapang. amin.


Komentar
 
Nama
Email
Komentar
 
Copyright © 2010 Qiblati · Kontak · Syarat & Kondisi
Halaman ditampilkan selama 0.0729detik · menggunakan resource memory sebesar 1.89MB