Selamat Datang |  Login


Tanggapan Siapa yg SALAH KAPRAH, dlm WAKTU SUBUH…?! (5-e)



Abu Hamzah al Sanuwi

 

Ustadz ad Darini berkata:

 (d) Fatwa dari Mufti Saudi Arabia yang lalu, Syeikh Binbaz -rohimahulloh-:

في بيان للمفتي العام للمملكة العربية السعودية، ورئيس هيئة كبار العلماء، وإدارة البحوث العلمية والإفتاء السابق الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز -رحمه الله- حول مواقيت الصلاة في تقويم أم القرى، صدر بتاريخ 22/7/1417 هـ، قال:

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه، وبعد: فإنه لما كثر الكلام من بعض الناس في الآونة الأخيرة حول تقويم أم القرى، وأن فيه غلطا في توقيت صلاة الفجر من ناحية التقديم قبل الوقت بخمس دقائق أو أكثر, كلَّفْتُ لجنة من أهل العلم بالذهاب إلى خارج مدينة الرياض بعيدا عن الأنوار لمراقبة طلوع الفجر ومعرفة مدى مطابقة التقويم المذكور للواقع، وقد قررت اللجنة بالإجماع مطابقة توقيت التقويم لطلوع الفجر، وأنه لا صحة لما يدعيه بعض الناس من تقدمه عليه، ولأجل إزالة الشكوك التي شوشت على بعض الناس صلاتهم جرى بيانه. والله الموفق والهادي إلى سواء السبيل. (نقلا من كتاب: طلوع الفجر الصادق 31-32)

Fatwa dari Mufti Saudi Arabia yang lalu, Syeikh Binbaz -rohimahulloh-:

Dalam keterangan resmi, yang dikeluarkan tanggal 22/7/1417 H, dari Mufti Umum Kerajaan
Saudi Arabia, yang merangkap sebagai ketua Lembaga Ulama Besar, dan Ketua Kantor
penelitian ilmiyah dan fatwa yang lalu, Syeikh Abdul Azin bin Baz -rohimahulloh-,
berkaitan tentang jadwal waktu sholat di kalender Ummul Quro,  mengatakan:

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam atas Nabi kita, keluarga, dan para
sahabatnya, wa ba’du:

Karena akhir-akhir ini, banyak suara dari sebagian orang tentang kalender Ummul Quro,
yang mengatakan adanya kesalahan dalam penentuan waktu sholat fajar, karena terlalu
cepat lima menit atau lebih, maka aku telah menugaskan lajnah yang terdiri dari para
ulama, untuk pergi ke luar Kota Riyadh agar jauh dari polusi cahaya, guna mengamati
terbitnya fajar dan mengetahui keakuratan kalender yang ada dengan kenyataan.
Dan lajnah itu telah memutuskan dengan kata sepakat, bahwa jadwal waktu dalam kalender
itu sesuai dengan waktu terbitnya fajar, dan sungguh tidak benar apa yang disuarakan
oleh sebagian orang, tentang terlalu cepatnya jadwal tersebut dari munculnya fajar.
Keterangan ini diberikan untuk menghilangkan keraguan yang membingungkan sebagian orang
di dalam sholatnya, dan Alloh-lah yang maha pemberi taufiq dan pemberi petunjuk kepada
jalan yang lurus. (Lihat Kitab Thulu’ul Fajris Shodiq: 31-32)

****

Tanggapan Abu Hamzah:

a.       Syaikh –rahimahullah- tuna netra sehingga tidak bisa mengamati sendiri, karena itu beliau murni percaya kepada tim tersebut, sebagaimana sahabat Ibnu Ummi Maktum -radiallahuanhu- yang tidak adzan kecuali menunggu diberitahu oleh para sahabat yang melihatnya. Pada saat ada khilaf antara syaikh Ibn Baz yang tidak melihat fajar dengan syaikh Al-Albani yang melihat fajar, tentu sebuah sikap yang kurang inshaf manakala kita mengunggulkan orang yang tidak melihat atas orang yang melihat, apalagi tim (yang dibentuk sekitar tahun 1412 H) itu yang melihat sekali tersebut telah dikritisi oleh Syaikh Dr. Sa'ad ibn Turki al-Khustlan yang mewakili Idarah al-Buhuts al-Ilmiyyah wal-Ifta` ( Dirjen Riset Ilmiah dan Fatwa) dalam Proyek Studi Mega.

Dalam penjelasannya tahun 1426 H/ 2005 M, syaikh al-Khutslan berkata:

ينبغي تنبيه النساء في البيوت أيضا أن لا يصلين إلا بعد نصف ساعة من الأذان ينبغي التواصي في هذه المسألة العظيمة المهمة  المتعلقة بالعبادة ولا يقال في هذا تشويش بل هذا فيه تصحيح الخطأ الواقع يترك الناس على الخطأ ليس بالصحيح وأما اللجان التي خرجت قبل فكانوا يفتقدون  الخبير معهم وكذلك المكان لم يكن مناسبا وكذلك لم يخرجوا إلا مرة تقريبا و هذه لا تكفي.

"Seyogjanya kaum wanita di rumah-rumah juga diingatkan agar mereka tidak menunaikan shalat subuh kecuali setelah 25 menit dari adzan. Seyogjanya saling berwasiat dalam masalah agung yang penting ini, yang berkaitan langsung dengan ibadah. Tidak bisa dikatakan ini adalah tasywisy (mengacaukan) tetapi justru ini mengandung tashhih (koreksi) atas sebuah kesalahan yang terjadi. Membiarkan manusia berada di atas kesalahan bukanlah sikap yang benar. Adapun panitia yang keluar sebelumnya (sekitar tahun 1412), maka mereka tidak ditemani oleh orang yang ahli (berpengalaman), begitu pula tempatnya kurang cocok, dan juga mereka tidak keluar kecuali hanya sekali, kira-kira, dan ini tidak cukup." (ini ditransip dari kaset beliau, aw kama qola)

b.      Syaikh Ibn Baz rahimahullah sangat berhusnuzhan kepada pembuat kalender dengan mengatakan:

إن الذين وضعوا التقويم هم أعلم منا بالتوقيت

"Sesungguhnya yang membuat kalender (ummul Qura) ini lebih alim dari kita." sebagaimana yang diceritakan oleh   Syaikh Ahmad an-Najmi (1429 H) –rahimahullah). Namun, ketika husnuzhan itu berhadapan dengan fakta, yaitu bahwa yang membuat kalender ummul qura ternyata tidak bisa membedakan antara dua fajar dengan baik, serta menambah satu derajat begitu saja dari keinginannya untuk hati-hati maka ia batal, dan yang benar adalah fakta.

c.       Syaikh telah melaksanakan tugasnya, dengan memerintahkan untuk dibentuk tim guna mengoreksi waktu fajar, namun usaha itu kiranya belum tuntas dan belum memuaskan.

d.      Syaikh Abdul Muhsin Ubaikan (penasehat hukum di kementrian kehakiman Saudi, kemudian penasehat Kantor Kerajaan setingkat mentri,  1372-1430 H)[1] berkata:

ان سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز - رحمه الله - لما وردت اليه كتابات من بعض مراكز الدعوة، وبعض أئمة المساجد حول وقت الفجر، لم يرفض إعادة النظر في التقويم، بل أمر بذلك، ومن ذلك الخطاب الذي وجهه سماحته إلى وزير الحج والأوقاف برقم 182/1، وتاريخ 20/1/1412ه. المبني على خطاب مدير مركز الدعوة والإرشاد في عرعر الذي لاحظ وجود فرق كبير في التوقيت بين أذان الفجر وطلوع الشمس في تقويم أم القرى بمنطقة عرعر، طالبا سماحته احالة ملاحظة فضيلة مدير مركز الدعوة إلى لجنة التقويم والإفادة بالنتيجة".

Sesungguhnya yang mulia Syaikh Abdul aziz ibn Baz –rahimahullah- ketika sampai kepada beliau surat-surat dari sebagian markaz-markaz dakwah, dan sebagian imam masjid seputar masalah waktu fajar, beliau tidak menolak untuk mengkaji ulang soal taqwim, bahkan beliau memerintahkan untuk itu. diantaranya adalah surat yang beliau layangkan kepada yang mulia mentri urusan Haji dan Waqaf dengan nomor 182/1, tertanggal 20/1/1412 H, yang didasarkan pada surat mudir markaz dakwah dan al-Irsyad di Ar'ur yang menlihat adanya perbedaan besar dalam tawqit antara adzan subuh dan keluarnya matahari di taqwim Ummul qura di kota Aqr-ur, seraya memohon kepada yang ,mulia agar mengalihkan catatan yang mulia mudir markaz dakwah kepada panitia taqwim dan melaporkan hasinya."

وإنما يعول هذا الشيخ، ومن ينتهج نهجه على لجنة ليس فيها فلكي، بعثها سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز، كان القرار فيها لكبيرهم الذي خرج مرة، وقد وضع في باله القناعة بالتقويم فلم يتحقق. ولما نوقش الذين كانوا معه، قال أحدهم إنه لا يعرف الفجر الصادق من الكاذب - على الطبيعة -، وأحدهم رجع عن رأي اللجنة بعد أن وقف مع أهل خبرة لمراقبة الفجر، فاتضح له الخطأ. وقد وضحت بعد ذلك لسماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز الأمر، وطلبت منه ان يكلف اللجنة المذكورة بالخروج معنا للتحقق من توقيت التقويم، فوافق - رحمه الله -، ولكن رفض كبير اللجنة، حتى إنني طلبت منه ذلك شخصيا فرفض، مما يدل على عدم الحرص على تصحيح الخطأ.

Syaikh Ubaikan melanjutkan:

            "Sesungguhnya syaikh ini dan orang yang mengikuti manhajnya mengacu pada lajnah yang tidak memiliki seorang ahli falak pun di dalamnya, yang diutus oleh yang mulia Syaikh Abdul Aziz ibn Baz, yang mana keputusannya ada di tangan "pembesarnya" yang keluar hanya sekali, sedangkan ia telah meletakkan dalam benaknya rasa kepuasaannya tentang taqwim, jadi ia tidak meneliti. Ketika orang yang bersamanya diajak diskusi, maka salah seorang mereka berkata: Sesungguhnya ia tidak mengetahui fajar shadiq dari fajar kadzib- diatas alam- Salah seorang mereka kembali meninggalkan pendapat panitia (tersebut) setelah berdiri bersama orang-orang yang berpengalaman dalam mengobservasi fajar, maka jelaslah kesalahan itu baginya. Saya sudah menjelaskan perkara ini setelah itu kepada Yang mulia syaikh Abdul Aziz ibn Baz. Saya meminta kepada beliau agar memirintahkan panitia tersebut keluar bersama kita untuk membuktikan kebenaran jadual shalat menurut taqwim. Maka beliau setuju akan tetapi "pembesar" panitia itu menolak, hingga aku secara probadi meminta kepadanya, namun ia tetap menolak. Ini sautu hal yang menunjukkan kurangnya tekad untukk meluruskan kesalahan." (disiarkan dalam harian al-Riyadh, Rabo, 23 Ramadhan 1426 H/ 26 Oktober 2005 H, edisi 13638 (http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?p=11175)

e.       Syaikh Ibn Baz –rahimahullah- dalam masalah ini mewakili studi lama yang tidak akurat. Beliau mengikuti pandangan lama bahwa jarak antara fajar shadiq dan terbit matahari adalah 90 menit (s=22 derajat). Beliau berkata:

أما الفجر الصادق فهو الذي يمتسح جنوباً وشمالاً في جهة الشرق ويزداد نوره، هذا هو الصبح متى طلع هذا الفجر فهذا هو الذي يفصل بين الخيط الأبيض والخيط الأسود، هذا هو الخيط الأبيض، الصبح، وهو ينتشر، ويتسع ويزداد نوره حتى يتم ضوؤه، ويزول آثاره وتزول آثار الليل، ويستمر إلى طلوع الشمس، والغالب مثل ما ذكرت أن ما بينهما ساعة ونصف تقريباً هذا ما ذكره أهل الخبرة

"Adapun fajar shadiq maka ia menyebar ke selatan dan utara di arah timur, dan bertambah cahayanya. Inilah subuh. Kapan fajar ini muncul maka ia yang memisahkan antara benang putih dan benang hitam. Inilah benang putih, subuh. Ia menyebar, meluas dan bertambah cahanya hingga sempurna cahayanya, dan hilanglah pengaruhnyaa, hilanglah pengaruh malam. Ia berlangsung terus hingga terbit matahari. Biasanya seperti yang engkau sebut (yaitu penanya dari Mesir) bahwa antara keduanya adalah satu jam setengah kira-kira. Ini yang dikatakan oleh orang yang ahli." (http://www.binbaz.org.sa/mat/14640)

f.        Meskipun Syaikh condong kepada studi lama namun beliau memiliki sikap yang menghormati orang-orang yang mengoreksi, bahkan menasehatkan agar iqamahnya diundur dari adzan. Iqamat menurut syaikh yang terbaik adalah 25 menit setelah terbitnya fajar (artinya setelah 30 menit dari adzan depag RI). Beliau berkata:

لكن الأفضل والأحسن أن يؤديها في حال الغلس بعد طلوع الفجر بنصف ساعة، نصف إلا خمس حواليها يكون هناك غلس وهناك ضياء الصبح واضح.

"Akan tetapi yang utama dan yang terbaik adalah melaksanakan shalat subuh pada waktu ghalas (akhir gelap malam yang bercampur cahaya fajar shadiq), setengah jam setelah terbitnya fajar, setengah kurang 5 menit, sekitar itu di sana ada ghalas dan ada cahaya pagi yang nyata." (http://www.binbaz.org.sa/mat/14769)

Jadi menurut beliau 25 menit setelah adzan kalender adalah waktu ghalas, waktu gelap remang-remang karena bercampur dengan cahaya putih dan merah fajar shadiq, waktu fajar shadiq menyebar di ufuk, itulah waktu yang tepat untuk melaksanakan shalat subuh.

Mengapa Syaikh Bin Baz menyarankan agar iqamat diundur 25 menit? Salah satu alasannya adalah supaya benar-benar yakin bahwa shalat subuh kita tepat pada waktunya. Syaikh Said ibn Ali al-Qhahthani berkata: Saya mendengar yang mulia mengatakan:

 ((المراد لا تعجلوا حتى يتضح الصبح حتى لا يخاطر بالصلاة))

 "Yang dimaksud (dengan hadits asfiru bilfajri) adalah janganlah kamu cepat-cepat (melaksanakan shalat subuh) hingga nampak jelas subuh itu, supaya tidak berspekulasi dengan shalat."[2]

g.       Kiranya beberapa fatwa syaikh bersama anggota Lajnah Daimah (yang dipimpin Syaikh Bin Baz)  berikut bermanfaat untuk ditelaah dan dijadikan sebagai pegangan:

وقالت اللجنة الدائمة (فتوى رقم 4991) (ج6/136ـ141) جوابا على سؤال في مواقيت الصلاة والإفطار في رمضان

"دين الإسلام دين السماحة واليسر والسهولة قال الله تعالى {يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ}(البقرة185) وقال {وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ}(الحج78) وثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه ما خير بين أمرين إلا اختار أيسرهما ما لم يكن إثما ولهذا جعل الله تعالى لمواقيت العبادات أمارات كونية يشترك في معرفتها العام والخاص الأمي منهم والعالم رحمة بالناس وتيسيرا لهم ودفعا للحرج عنهم من ذلك قوله تعالى في تحديد الصوم اليومي بدءا ونهاية {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ}(البقرة 187) وبين ذلك النبي صلى الله عليه وسلم بعمله وقوله فقد ثبت عن عبد الله بن أبي أوفى رضي الله عنه أنه قال كنا في سفر مع النبي صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان فلما غابت الشمس قال "يا فلان انزل فاجدح لنا" قال يا رسول الله إن عليك نهاراً قال انزل فاجدح لنا فنـزل فجدح فأتاه به فشرب النبي صلى الله عليه وسلم ثم قال بيده "إذا غابت الشمس من هاهنا وجاء الليل من هاهنا فقد أفطر الصائم" وعن عمر رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "إذا أقبل الليل وأدبر النهار وغابت الشمس فقد أفطر الصائم" وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم "لا يمنعن أحدكم أو أحداً منكم أذان بلال من سحوره فإنه يؤذن (أو ينادي) بليل ليرجع قائمكم ولينبه نائمكم وليس أن يقول الفجر أو الصبح"وقال بأصابعه ورفعها إلى فوق وطأطأ إلى أسفل حتى يقول هكذا وقال زهير بسبابتيه إحداهما فوق الأخرى ثم مدّهما عن يمينه وشماله

يبين بالإشارة الأولى الفجر الكاذب وبالإشارة الثانية الفجر الصادق وهو النور الذي يعترض الأفق في جهة الشرق جنوبا وشمالا وقوله صلى الله عليه وسلم في بَدْء صوم رمضان وانتهائه "صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا العدد" وفي رواية "فصوموا ثلاثين يوما" فأوجب الصوم برؤية هلال رمضان وأوجب الإفطار برؤية هلال شوال لسهولة ذلك على الأمة العالم والأمي والحضري والبدوي وقد يكون الأمي والبدوي أبصر بذلك من غيرهم رحمة من الله وفضلا ولم يعول في ذلك على علم الفلك أي علم سير النجوم

ومن ذلك قوله تعالى في أوقات الصلوات الخمس {أَقِمِ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ}(الاسراء78) وقوله {وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلاً (25) وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلاً طَوِيلاً}(الانسان25-26)

وبينه النبي صلى الله عليه وسلم بقوله وعمله وذلك فيما ثبت عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال "وقت الظهر إذا زالت الشمس وصار ظل الرجل كطوله ما لم يحضر العصر ووقت العصر ما لم تصفر الشمس ووقت صلاة المغرب ما لم يغب الشفق ووقت صلاة العشاء إلى نصف الليل الأوسط ووقت صلاة الصبح من طلوع الفجر ما لم تطلع الشمس فإذا طلعت الشمس فأمسك عن الصلاة فإنها تطلع بين قرني شيطان" وعن سليمان بن بريدة عن أبيه رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أن رجلا سأله عن وقت الصلاة فقال له صل معنا هذين يعني اليومين

فلما زالت الشمس أمر بلالاً فأذن ثم أمره فأقام ثم أمره فأقام العصر والشمس مرتفعة بيضاء نقية ثم أمره فأقام المغرب حين غابت الشمس ثم أمره فأقام العشاء حين غاب الشفق ثم أمره فأقام الفجر حين طلَع الفجر فلما أن كان اليوم الثاني أمره أن يبرد بالظهر فأبرد بها فأنعم أن يبرد بها وصلى العصر والشمس مرتفعة أخَّرَها فوق الذي كان وصلى المغرب قبل أن يغيب الشفق وصلى العشاء بعد ما ذهب ثلث الليل وصلى الفجر فأسفر بها ثم قال أين السائل عن وقت الصلاة فقال الرجل أنا يا رسول الله

فقال "وقت صلاتكم بين ما رأيتم" إلى غير ذلك من الأحاديث المبينة تفصيل وقت الصلاة قولا وعملا ولم ينط ذلك بسير النجوم ولا بقول علماء الفلك فضلا من الله تعالى وإحساناً ودفعاً للحرج عن المكلفين من عباده

وعلى هذا فالطريق الفطري السهل هو التعويل في معرفة أوقات الصلوات على ما نبه عليه الشرع من الأمارات الكونية التي تقدم بيانها لكونه عاما يعرفه الحضري والبدوي من متعلم وغير متعلم أما معرفة الأوقات عن طريق حساب سير النجوم فمع كونه تقريبياً لا يتيسر لكل أحد

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو عبد الله بن قعود                                    نائب رئيس اللجنة عبد الرزاق عفيفي       

الرئيس عبد العزيز بن باز

وقالت اللجنة الدائمة (فتوى رقم 4100) (ج6/ص141ـ142) جواباً على سؤال

هل للتقويم الحالي مشروعية أم لا

الجواب  التقويم من الأمور الاجتهادية فالذين يضعونه بشر يخطئون ويصيبون ولا ينبغي أن تناط به أوقات الصلاة والصيام من جهة الابتداء والانتهاء لأن ابتداء هذه الأوقات وانتهائها جاء في القرآن والسنة فينبغي الاعتماد على ما دلت عليه الأدلة الشرعية ولكن هذه التقاويم الفلكية قد يستفيد منها المؤذنون والأئمة في أوقات الصلاة على سبيل التقريب أما في الصوم والإفطار فلا يعتمد عليها من جميع الوجوه لأن الله سبحانه علق الحكم بطلوع الفجر إلى الليل ولأن الرسول صلى الله عليه وسلم قال "صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا العدة"

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو عبد الله بن غديان                   نائب رئيس اللجنة عبد الرزاق عفيفي                                                               الرئيس عبد العزيز بن باز

 

وقالت اللجنة الدائمة (فتوى رقم 7373) (ج6/ص143)

"لا عبرة في تحديد أوقات الصلوات بالتقسيم الفلكي وإنما العبرة في دخول وقت الفجر بظهور ضوء مستعرض الأفق شرقا إذا اتضح وتميز"

(3) وقال سماحة الوالد عبد العزيز بن باز رحمه الله في كتابه (تحفة الإخوان بأجوبة مهمة تتعلق بأركان الإسلام) (ص170) جوابا على السؤال التالي

هل يجب علينا الكف عن السحور عند بدء أذان الفجر أم يجوز لنا الأكل والشرب حتى ينتهي المؤذن

الجواب  إذا كان المؤذن معروفاً بأنه لا ينادي إلا على الصبح فإنه يجب الكف عن الأكل والشرب وسائر المفطرات من حين يؤذن أما إذا كان الأذان بالظن والتحري حسب التقاويم فإنه لا حرج في الشرب أو الأكل وقت الأذان لما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال "إن بلالاً يؤذن بليل فكلوا واشربوا حتى ينادي ابن أم مكتوم" قال الراوي في آخر هذا الحديث "وكان ابن أم مكتوم رجلا أعمى لا ينادي حتى يقال له أصبحت أصبحت" متفق على صحته

والأحوط للمؤمن والمؤمنة الحرص على إنهاء السحور قبل الفجر عملاً بقول النبي صلى الله عليه وسلم "دع ما يريبك إلى ما لا يريبك" وقوله صلى الله عليه وسلم "من اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه" أما إذا علم أن المؤذن ينادي بليل لتنبيه الناس على قرب الفجر كفعل بلال فإنه لا حرج في الأكل والشرب حتى ينادي المؤذنون الذين يؤذنون على الصبح عملا بالحديث المذكور  اهـ

 



[1] http://al-obeikan.com/page/13-

[2] Syaikh al-Qahthani mendengar syaikh Bin Baz mengatakan itu saat mensyarah hadits no. 172 dari Bulughul Maram. Lihat bukunya Syurut as-Shalah fi Dhau'il Kitab was-sunnah yang selesai ditulis tahun 1420 H..



Bambangsoemarno
[2009-11-01 15:19:25]

Assalamualaikm.. Kpd majalah qblati tlg masalah fajar kadzib dan shodiq untk d sampaikn kpd masyarakat awam, agar bgi kalangan masyarakt awam mngetahi jadwl wakt shlt subh yg sbnrny. Jazakulloh

wa'alaikum salam. Jazakallah khairanikum salam. jazakallah ihi shalah lilmuslimin.

*AH


--------------------------
*Admin Qiblati.com
Azzahra
[2009-11-01 12:12:27]

Bagaimana Qiblati menanggapi kajian ustadz Zainal Abidin...?! Di addariny disebutkan bahwa observasi tim qiblati kurang akurat, karena qiblati tidak bisa mendatangkan bukti fajar kadzib... jadi mungkin saja awal fajar tidak dilihat oleh qiblati sebagaimana qiblati tidak melihat fajar kadzib?

pertama: jawaban kami untuk ustad ad-darini cukup sebagai jawaban untuk ustadz zaenal.

Kedua; menurut al-Qur`an, sunnah dan ijma': yang dijadikan gantungan hukum adalah fajar yang dilihat bukan fajar yang tidak terlihat.

Ketiga: Fajar kadzib kita lihat, tetapi tidak ada fotonya. Jadikalau mau tahu ya melihat langsung.

Kempat: ustadz addarini , ustadz zaenal dan siapa saja yang mengatakan fajar shadiq muncul pada posisi matahari -18, -19, -20 derajat di bawah ufuk tidak bisa menghadirkan foto fajar shadiq. Jika fajar shadiq saja tidak bisa mereka lihat lalu bagaimana dengan fajar kadzib? Jika fajar shadiq mereka tidak bisa dilihat, maka bukankah itu menyalahi ayat, hadits dan salaf?

Kelima: di makalah ustadz ad-Darini ada fotofajar shadiq, tolong tanyakan pada beliau, fajar seperti itu apa ada pada saat orang adzan? Tolong dijelaskan kepada umat, foto yang dipampangkan sebagai contoh fajar shadiq itu muncul kapan?!

*AH


--------------------------
*Admin Qiblati.com
abu_rifqi
[2009-11-01 07:36:30]

subhaanalloh ustadz...sepertinya masalah semakin meluas dan menimbulkan polemik di kalangan tholibil ilmi...masing2 saling memberikan tanggapannya...apakah memang seperti ini penyelesaiannya? ataukah memang susah untuk kembali duduk bersama kemudian mengeluarkan hasil finalnya ke kami yg awam? atau...semoga Alloh menyatukan hati2 kaum muslimin dalam kebenaran...baarokalloohu fiikum

banyak yang mendapat ilmu tanpa harus duduk bersama. Niat yang iklash, jujur, nalar, dan manhaj yang matang sangat membantu untuk mengambil manfaat tanpa ikut arus orang yang ribut.

Jika ada yang memprakarsai pertemuan maka bagus, itu pahala yang besar.

*AH


--------------------------
*Admin Qiblati.com
abu Ismail
[2009-10-31 23:51:57]

As'salamu'alaikum warohmatullah waarokaatuh. saya selalu berdo'a mudah2n dakwah salaf bisa bersatu. saya denger semua kajian baik daru Ustadz Agus Hasan Bashori, Lc. Mag ataupun Bantahan dari Ustadz Zaenal Abidin Syamsudin, Lc. melalui radio rodza. tolong Ustadz agus Hasan segera menanggapinya. kami dari ikhwan2 yang mengehendaki kebaikan bagi kita semua...menjadi binggung. mohon jikalau bisa segera melakukan Tabayyun dengan dialog Ilmiah. dan keputusannya kami akan selalu tunngu. terimakasih..barokallhufi kum

kami selalu terbuka dialog dengan siapa saja, lebih-lebih kami sebagai pihak yang menyampaikan materi, maka sebenarnya kami yang lebih berhak untuk dihubungi baik dengan nasehat maupun kritikan. Namun sayang itu tidak terjadi. Alhamdulillah kami tidak pernah mencaci atau menghina atau merendahkan orang apalagi ustadz yang memperjuangkan sunnah, jadi kami tidak sungkan untuk duduk dengan siapapun!

Masalah bantahan, cukuplah apa yang kami tulis dan apa yang akan kami tulis, karena masalahnya jelas, dalilnya jelasm barangnya jelas.

*AH


--------------------------
*Admin Qiblati.com
yanto
[2009-10-31 15:08:54]

assalamu'alaikum. saya mau tanya, manakah yang harus saya jadikan patokan, saya harus menunda 20 menit atau 30 menit ? karena dari hasil pengamatan tim Qiblati sangat bervariasi. Terima kasih. wassalamu'alaikum

Wa'alaikumsalam, mengikuti fatwa para ulama dan observasi maka rata-rata mundur 25 menit bagus.

*AH


--------------------------
*Admin Qiblati.com
Nanang Purnomo
[2009-10-30 22:03:39]

Mengapa sebagian ulama berseberangan dengan permasalahan ini, (mohon koreksi di www.radiorodja.com) terima kasih

keterangannya ada di jawaban kami terhadap ad-Darini, dan di majalah Qiblati mulai edisi depan insya Allah.

*AH


--------------------------
*Admin Qiblati.com
abu ibrahim
[2009-10-30 21:54:51]

Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh. Ana mau bertanya kepada tim Qiblati, bagaimanakah patokan baku(ilmiah) dalam melakukan observasi fajar syar'i yaitu fajar kadzib & fajar shadiq?, karena ana benar2 ingin melihat ke-2 fajar tersebut. Kemudian kalo kita lihat dari laporan2 yg masuk kpd tim Qiblati, menyatakan fajar shadiq baru terbit(awal fajar shadiq) 20 s/d 30 menit stlh adzan, atau mungkin lebih. Mengapa yg dijadikan patokan tim Qiblati ko yg 20 menit, mengapa tdk memilih yg 30 atau yg lebih? Kalo ada laporan pengamatan yg masuk tim Qiblati(dan dibenarkan tim Qiblati), bahwa adzan terlalu cepat 30 menit atau lebih, maka manakah yg lebih valid pengamatannya? yang 20 menit atau yg 30 menit atau lebih? Demikian saja, jazakumullaahu khairan katsira. Wassalamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh

wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh

kesepakatannya adalah iqamat harus mundur, jadual kecepetan. Mundur berapa? Untuk shalat Semakin yakin semakin baik. yang penting minimal setelah 20 menit.

*AH


--------------------------
*Admin Qiblati.com

Komentar
 
Nama
Email
Komentar
 
Copyright © 2010 Qiblati · Kontak · Syarat & Kondisi
Halaman ditampilkan selama 0.0677detik · menggunakan resource memory sebesar 1.93MB