Selamat Datang |  Login


Tabligh Akbar Fajar Shodiq di Sragen



Abu Umar S.S

 

Bismillahirrohmanirrohim

 

Insya Allah akan diadakan Tabligh akbar tentang Fajar Shodiq di Sragen Jawa Tengah.

 

Pemateri : Ust Agus Hasan Bashori Lc, M.Ag.

Tempat   : Masjid Baitul Musthofa Kliwonan Masaran Sragen Jawa Tengah.

Hari        : Ahad, 15 Syawal 1430 H / 4 Oktober 2009.

Waktu    : 08.00 WIB.

 

*Kliwonan Masaran Sragen Jawa tengah dekat dengan Pondok Pesantren Ibnu Abbas Assalafy.

Cp. 0271-7036399 (Ustdz. Muslim al Atsary)



hetri
[2009-11-04 19:53:44]

Subhanallah ini sebuah pencerahan bagi saya setelah mengetahui kelalaian dan kelemahan kita umat islam dalam mendapatkan pemahaman syariat islam secara murni terus dan sebarkan informasi ini kepada seluruh umat yang sudah keliru melaksanakan sholat berdasarkan panduan depag

Matur suwun, dan alhamdulillah jika ada manfaat yang bisa diambil dari kami. Semoga Allah selalu menambah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

*AH


--------------------------
*Admin Qiblati.com
abu Salma
[2009-10-05 15:54:41]

bismillah....sebagai orang awam dan pembaca qiblati, saya sampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Sofyan Said atas tulisan ini, sehingga terasa semakin mantab. dan untuk tim qiblati saya doakan semoga mendapat kemudahan dalam memperjuangkan masalah ini. ingat (dan saya yakin, Qiblati juga sudah tahu) bahwa anda tidak sendirian, dan bahkan anda bukan yang pertama, tetapi bagaimanapun juga upaya anda mudah-mudahan membawa perbaikan bagi ibadah umat, di Indonesia khususnya. amin.

amiin


--------------------------
*Admin Qiblati.com
Sofyan Said
[2009-10-02 13:12:28]

Bagus, baik sekali. Memang perlu sosialisasi Fajar shodiq secepatnya. Berikut komentar saya atas tentang fajar di Qiblati Ediss 11. 10. 9 dan 8.

KOMENTAR: Majalah Qiblati Edisi 8-11, Tentang
Salah Kaprah Waktu Subuh
Oleh: Sofyan Said, anggota ICMI orsat PUSPIPTEK, pengamat Ilmu Hisab.
Email: sofyans_akt71@yahoo.com.s g
1. Karena hal ini sudah merupakan kesalahan kronis/menahun tanpa ada aksi, maka dianjurkan agar semua mesjid-mesjid yang saat ini menggunakan Jadwal Shalat Sepanjang Masa (JSSM) atau Waktu Shalat Abadi (WSA) yang merujuk ke buku pedoman Penentuan Jadwal Waktu Shalat Sepanjang Masa DEPAG 1994 - dengan mengambil sudut elevasi matahari 19,5o (ϕ) di bawah ufuk, agar memundurkan waktu adzan subuhnya 20 ~ 22 menit. Atau lihat tabel berikut :
ϕ [derajat, atau ...o ]
21
20,5
20
19,5
19
18
17,5
17
τ [menit]
26
24
22
20
18
14
12
10
di mana : ϕ = sudut elevasi matahari di bawah ufuk = Fajr Twilight Angle, untuk menghitung masuknya waktu subuh.
τ = jumlah pengunduran waktu adzan
Atau melakukan hal-hal sebagai berikut :
a) Memundurkan Iqamat selama 20 atau 22 menit setelah azan, sambil menunggu para jama’ah datang dan sambil menunggu masuknya waktu fajar shadiq (waktu subuh syar’i). Konsekwensinya shalat sunat fajar (sunat qabliah) yang dilakukan sebelumnya tidak sah, demikian juga shalat subuh yang telah dilakukan ibu-ibu/orang sakit/orang-orang distasiun atau bandara – segera setelah adzan juga menjadi tidak sah. Dan tentunya harus diulang setelah masuk waktu subuh syar’i.
b) Untuk waktu subuh dilakukan dua kali azan seperti pada zaman nabi, seperti di Madina/Mekkah sekarang ini. Azan pertama satu jam sebelum waktu subuh syar’i (fajar shadiq) untuk membangunkan orang (jama’ah), dan azan kedua setelah masuk waktu subuh syar’i – yang disusul dengan shalat sunat fajar yang ringkas, kemudian Iqamat oleh muad’zin untuk segera shalat fardhu subuh berjama’ah.
2. Segera membuat Jadwal Shalat Abadi (JSA) yang sudah direvisi, maka salah satu cara, yaitu dengan menggunakan software dari “Islamic Finder” yg gratisan via internet. Gunakan input berikut saat meng_setting software tersebut :
Pilih option, lalu city selection, lalu edit nama tempat anda dan masukkan data koordinat tempat anda (gunakan GPS). Kemudian pilih setting, lalu tandai pilihan kedua dari bawah, yaitu Twilight angle in degrees.Ketik Fajr: 14,6 atau 14,5 dan Isha : 18 atau 15 (ISNA method). Ketik dhuhur: 2 dan maghrib: 2. Juristic Methods: standard. Ketik Time Zone GMT: +7 untuk WIB, +8 untuk WITA & +9 untuk WIT. Daylight savings tidak digunakan (off_kan saja), karena hanya diperlukan di Negara Empat Musim. Dan jangan lupa, sekali seminggu komputer anda dikalibrasi penunjukan waktu_nya (disinkronkan) ke jam atom internasional via internet time (time.windows.com).
3. Sebagai contoh, untuk bulan September 2009 (sebenarnya untuk September tiap tahun) – saya telah mencetak JSA versi lama refer DEPAG 1994 & JSA versi baru (koreksi, revisi) khususnya untuk waktu shalat subuh dan waktu shalat lainnya di Kawasan PUSPIPTEK, Kelurahan/Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan – Propinsi Banten, yang berlaku sampai radius 27 km. Sebagaimana terlihat di halaman berikut.
ϕ = 19,5ο ϕ = 14,6οϕ = 15οϕ = 18οWSA atau JSSMWSA Revisi Mundur τ = +20 menit Maju τ = -12 menit R A M A D H A N 1 4 3 0 H
4. Untuk menghisab waktu shalat subuh pada point 2 & 3 di atas, digunakan data observasi para ahli hisab dan syar’i Arab Saudi dengan 365 data pengamatan tentang “Fajar Shadiq = Fajar Haqiqi = Fajar Syar’i ”, sebagaimana telah dijelaskan pada edisi ke 11 Majalah Qiblati. Digunakan nilai ϕ rata-rata yaitu 14,6o. Nilai ini merupakan parameter terbaik saat ini ketimbang yang dianjurkan oleh dua pakar Inggeris (Mr. Lehman dan Mr. Melthe) di Aswan Mesir 1908-1909, yaitu ϕ = 19o. Parameter terakhir inilah yang ditelan mentah-mentah para ahli hisab Islam tanpa mau mengkonfirmasi (tidak meneliti) apa sudah sesuai dengan ketentuan syari’i (hadist nabi) atau tidak. Berawal disinilah salah kaprah waktu shalat subuh tersebut, ditambah dengan sikap ingin berhati-hati saat bulan Ramadhan dengan memajukan waktunya shalat subuh (memperbesar nilai ϕ).
Jadi sudah satu abad ummat Islam shalat subuh bukan pada waktunya yang syar’i, lalu siapa yang berdosa di sini ?, dosa bersamakah yang turun temurun ?. Jangan pikirkan dosanya dulu, tinggalkan perdebatan. lebih baik kita berlapang dada dan bertekad bersama (kemauan bersama) kembali kemetode syar’i sebagaimana yang sudah dilakukan/dipraktekkan pakar-pakar hisab dan syari’i di Arab Saudi. Saudara saudaraku bagi yang pernah naik haji, tidakkah anda melihat dan memperhatikan bahwasanya tatkala kita shalat subuh di Mesjid Haram Mekkah ataupun di Mesjid Nabawi Madina saat itu langit di arah timur tampak putih kemerahan (fajar shadiq).
5. Waktu shalat Isya: Karena waktu remang-remang (twilight) saat fajar dan senja itu berproses simetri, maka ada kemungkinan waktu shalat Isya yang kita lakukan sekarang ini di negara Islam mundur sekitar 12 ~ 18 menit dari waktu seharusnya (yaitu ketika megah merah di langit sudah hilang). Hal ini tidak membawa masalah bagi yang mau melaksanakan shalat Isya. Yang bermasalah adalah orang-orang yang mengakhirkan shalat maghrib_nya, karena ada kemungkinan saat dia shalat maghrib sebenarnya waktu shalat Isya sudah masuk.
6. Untuk para ahli hisab Islam dan ahli syar’i di Indonesia, perlu juga melakukan penelitian (observasi) mengenai Fajar Shadiq selama setahun penuh di NKRI, yaitu di Lintang nol (Sekitar Pontianak, Toli-Toli), di lintang terbawah (daerah pantura JAWA, Bali, Lombok, Sumbawa sampai Timor Barat) dan di lintang teratas (Aceh Utara, Menado, Kepulauan Sangir Talaud, Kepulauan Halmahera Utara, Pesisisr Utara Papua).
Bukan hanya itu, tapi perlu juga penelitian (observasi) kapan mulai lenyap megah merah di langit pada akhir waktu maghrib yang berarti mengidikasikan waktu Isya mulai masuk.
Jadi kita perlu mencari korelasi antara Koordinat Tempat Pengamatan dengan waktu-waktu mulainya Fajar Shadiq (garis putih / kemerahan dikegelapan) yang terkait dengan posisi matahari di bawah ufuk. Demikian juga observasi waktu syar’i untuk mulai masuknya waktu Isya.
7. Kebanyakan ahli hisab menghitung masuknya waktu Isya berdasarkan saat dimulainya kegelapan astronomis (astronomical twilight), yaitu pada saat sudut elevasi matahari berada 18o di bawa ufuk. Tapi yang benar menurut syari’i adalah saat megah merah di langit remang-remang sudah menghilang total (menurut hadist), yang ada kemungkinan sudut elevasi matahari saat itu sekitar 15o. Ini perlu pegamatan dan penelitian seperti saya tuliskan pada point 6 di atas. Dalil tentang akhir waktu magrib, yang berarti awal waktu Isya pembaca bisa menyimak hadist shahih Muslim no.568 : Dari ‘Abdullah bin Umar r.a., katanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat Subuh waktunya hingga matahari
mulai terbit (sunrise). Shalat Dhuhur waktunya hingga datang waktu Ashar. Shalat Ashar waktunya hingga cahaya matahari telah menguning. Shalat Maghrib waktunya hingga hilang mega merah. Shalat Isya waktunya hingga seperdua malam”. Dalil senada dapat disimak pada hadist no. 569 dan no. 570 shahih Muslim. Dalam hal ini, hisab waktu Shalat Isya dan waktu Shalat Subuh selama ini yang relevan dan sesuai syar’i adalah metode yang dianjurkan oleh ISNA (Islamic Society of North America), mereka menentukan parameter ϕ = 15o untuk kedua waktu shalat tersebut.
8. Saya prediksi (yakin) di setiap tempat di permukaan bumi akan melihat awal Fajar Shadiq dan awal menghilangnya megah merah di langit saat waktu mulainya Isya – akan hampir sama korelasinya terhadap sudut elevasi matahari di bawah ufuk. Mungkin terdapat perbedaan sudut (Δϕ) akibat perbedaan kepadatan atmosfir (akibat beda temperatur) saat matahari terbit dan matahari terbenam. Atmosfir bersifat prismatis saat mendispersikan sinar matahari dengan sudut elevasi kecil disekitar nol derajat di bawah ufuk, saat-saat itulah bermula fenomena remang-remang (twilight) fajar dan senja.
Untuk pengamatan harian dalam setahun, diprediksi akan kita peroleh suatu nilai sudut ϕ yang sifatnya satu siklus pertahun, nilai-nilai ϕ berubah (ber_ayun) disekitar nilai rata-rata tahunannya dengan amplitudo sekita 0,5o ~ 1,2o busur. Hal ini mudah diduga akibat sudut deklinasi matahari demikian pula equation time berubah satu siklus pertahun pada tiap tempat dimuka bumi.
Demikianlah Allah Azza’ wa Jalla’ menciptakan alam fisik (alam raya) serba teratur dan serba simetris, sehingga tanda-tanda alam yang digunakan dahulu para salafus shaleh saat menentukan masuknya waktu-waktu shalat selain mudah diamati, juga sekarang bisa dihitung (hisab) secara akurat.
Kesalahan penentuan waktu subuh yang kecepatan dan waktu Isya yang molor – itu akibat salah masukan (input) pada perhitungan (software), hal mana penye-babnya sudah dijelaskan pada butir-4 di atas. Sekali lagi saya sampaikan, bahwa tidak ada impaknya (sangsi syar’i) memundurkan waktu shalat Isya, bahkan afdhal dilakukan pada sepertiga awal malam, yaitu kira-kira jam 22 malam (silahkan baca hadist shahih Muslim No.596 dan 597). Tapi bukankah untuk membuat jadwal shalat, yang diperlukan adalah waktu awal masuknya shalat ?. Sehingga dalam hal ini akan mencegah ummat yang shalat magrib di akhir waktu tetap masih sah shalatnya.
9. Kepada team Qiblati (team pemburu dan pengamat fajar shadiq, foto-foto fajar shadiq yang diliput dan disajikan dalam Qiblati edisi-11 lumayan bagus (1.Desa Jun Rejo, Kota Batu Jatim; 2.Agro Wisata Batu; 3.Pantai Jumiyang Desa Pademawu Pamekasan Madura). Tapi ada kekurangannya, yaitu team tidak mengukur koordinat tempat (latitude, longitude & altitude) di mana anda mengamati fajar shadiq. Kalau data tersebut juga dicamtumkan dalam Qiblati edisi-11, saya sebagai pembaca bisa menghitung balik posisi matahari saat itu berapa derajat di bawah ufuk. Saran saya, kalau memburu fajar shadiq di lain waktu perlu membawa perlengkapan tambahan lagi, yaitu : Hand GPS, Altimeter Presisi, [Opsi tambahan, hanya bila ada / tersedia : Pengukur Temperatur udara, Pegukur Kecepatan Angin, Pengukur Kelembaban Udara.]. Disamping itu sebaiknya team juga memburu dan membidik saat megah merah awan dilangit - perlahan menghilang di ujung akhir waktu Maghrib. Penentuan awal masuknya waktu Isya secara akurat bisa diperoleh dari pengamatan berakhirnya megah merah ini dilangit Barat. Selama ini perhitungan masuknya waktu Isya masih sangat variatif asumsi parameter ϕ (Isya). Penentuan parameter ini secara akurat akan mencegah orang yang shalat Mahgrib_nya telat/mundur (diakhir waktu) masih sah.
Demikianlah komentar ini, dan saya akhiri dengan;
• Firman Allah Ta’ala :
“Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali‘Imran: 104).
• Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemah imam”. (Shahih: HR. Muslim No.49, Ahmad III/10, Abu Dawud No.1140, an-Nasa-I VIII/111-112 dan at-Tirmidzi No.2172).
• Semoga Allah Azza’ wa Jalla’ mengberi kita hidayah, untuk membetulkan hal-hal yang keliru agar supaya dalil syar’i tentang awal masuknya waktu subuh maupun Isya klop sama dengan parameter ϕ (Subuh/Isya) pada Pengamatan Cakrawala dan Ilmu Astronomi Modern. Berlapang dadalah atas informasi yang baru serta menghindari perdebatan yang tidak berguna......amin.
-------------------- Komentator : Sofyan Said, mantan staf B2TKS-BPPT--------------- -----
17 Ramadhan 1430 H 07 September 2009

Jazakumullah khoir Bapak Sofyan Said atas informasi dan dukungannya serta nasehat yang bapak sampaikan, semoga Allah memudahkan da'wah ini.


--------------------------
*Admin Qiblati.com

Komentar
 
Nama
Email
Komentar
 
Copyright © 2010 Qiblati · Kontak · Syarat & Kondisi
Halaman ditampilkan selama 0.0754detik · menggunakan resource memory sebesar 1.9MB