Bismillahirrohmanirrohim
Insya Allah akan diadakan Tabligh akbar tentang Fajar Shodiq di Sragen Jawa Tengah.
Pemateri : Ust Agus Hasan Bashori Lc, M.Ag.
Tempat : Masjid Baitul Musthofa Kliwonan Masaran Sragen Jawa Tengah.
Hari : Ahad, 15 Syawal 1430 H / 4 Oktober 2009.
Waktu : 08.00 WIB.
*Kliwonan Masaran Sragen Jawa tengah dekat dengan Pondok Pesantren Ibnu Abbas Assalafy.
Cp. 0271-7036399 (Ustdz. Muslim al Atsary)
Subhanallah ini sebuah pencerahan bagi saya setelah mengetahui kelalaian dan kelemahan kita umat islam dalam mendapatkan pemahaman syariat islam secara murni terus dan sebarkan informasi ini kepada seluruh umat yang sudah keliru melaksanakan sholat berdasarkan panduan depag
Matur suwun, dan alhamdulillah jika ada manfaat yang bisa diambil dari kami. Semoga Allah selalu menambah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
*AH
--------------------------
*Admin Qiblati.com
bismillah....sebagai orang awam dan pembaca qiblati, saya sampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Sofyan Said atas tulisan ini, sehingga terasa semakin mantab. dan untuk tim qiblati saya doakan semoga mendapat kemudahan dalam memperjuangkan masalah ini. ingat (dan saya yakin, Qiblati juga sudah tahu) bahwa anda tidak sendirian, dan bahkan anda bukan yang pertama, tetapi bagaimanapun juga upaya anda mudah-mudahan membawa perbaikan bagi ibadah umat, di Indonesia khususnya. amin.
amiin
--------------------------
*Admin Qiblati.com
Bagus, baik sekali.
Memang perlu sosialisasi
Fajar shodiq secepatnya.
Berikut komentar saya
atas tentang fajar di
Qiblati Ediss 11. 10. 9
dan 8.
KOMENTAR: Majalah
Qiblati Edisi 8-11,
Tentang
Salah Kaprah
Waktu Subuh
Oleh:
Sofyan Said, anggota ICMI
orsat PUSPIPTEK, pengamat
Ilmu Hisab.
Email:
sofyans_akt71@yahoo.com.s
g
1. Karena hal ini
sudah merupakan kesalahan
kronis/menahun tanpa ada
aksi, maka dianjurkan
agar semua mesjid-mesjid
yang saat ini menggunakan
Jadwal Shalat Sepanjang
Masa (JSSM) atau Waktu
Shalat Abadi (WSA) yang
merujuk ke buku pedoman
Penentuan Jadwal Waktu
Shalat Sepanjang Masa
DEPAG 1994 - dengan
mengambil sudut elevasi
matahari 19,5o (ϕ) di
bawah ufuk, agar
memundurkan waktu adzan
subuhnya 20 ~ 22 menit.
Atau lihat tabel berikut
:
ϕ [derajat, atau
...o ]
21
20,5
20
19,5
19
18
17,5
17
τ
[menit]
26
24
22
20
18
14
12
10
di mana : ϕ =
sudut elevasi matahari di
bawah ufuk = Fajr
Twilight Angle, untuk
menghitung masuknya waktu
subuh.
τ =
jumlah pengunduran waktu
adzan
Atau melakukan
hal-hal sebagai berikut
:
a) Memundurkan
Iqamat selama 20 atau 22
menit setelah azan,
sambil menunggu para
jama’ah datang dan
sambil menunggu masuknya
waktu fajar shadiq (waktu
subuh syar’i).
Konsekwensinya shalat
sunat fajar (sunat
qabliah) yang dilakukan
sebelumnya tidak sah,
demikian juga shalat
subuh yang telah
dilakukan ibu-ibu/orang
sakit/orang-orang
distasiun atau bandara
– segera setelah
adzan juga menjadi tidak
sah. Dan tentunya harus
diulang setelah masuk
waktu subuh
syar’i.
b)
Untuk waktu subuh
dilakukan dua kali azan
seperti pada zaman nabi,
seperti di Madina/Mekkah
sekarang ini. Azan
pertama satu jam sebelum
waktu subuh syar’i
(fajar shadiq) untuk
membangunkan orang
(jama’ah), dan azan
kedua setelah masuk waktu
subuh syar’i
– yang disusul
dengan shalat sunat fajar
yang ringkas, kemudian
Iqamat oleh
muad’zin untuk
segera shalat fardhu
subuh
berjama’ah.
2.
Segera membuat Jadwal
Shalat Abadi (JSA) yang
sudah direvisi, maka
salah satu cara, yaitu
dengan menggunakan
software dari
“Islamic
Finder” yg gratisan
via internet. Gunakan
input berikut saat
meng_setting software
tersebut :
Pilih
option, lalu city
selection, lalu edit nama
tempat anda dan masukkan
data koordinat tempat
anda (gunakan GPS).
Kemudian pilih setting,
lalu tandai pilihan kedua
dari bawah, yaitu
Twilight angle in
degrees.Ketik Fajr: 14,6
atau 14,5 dan Isha : 18
atau 15 (ISNA method).
Ketik dhuhur: 2 dan
maghrib: 2. Juristic
Methods: standard. Ketik
Time Zone GMT: +7 untuk
WIB, +8 untuk WITA &
+9 untuk WIT. Daylight
savings tidak digunakan
(off_kan saja), karena
hanya diperlukan di
Negara Empat Musim. Dan
jangan lupa, sekali
seminggu komputer anda
dikalibrasi penunjukan
waktu_nya (disinkronkan)
ke jam atom internasional
via internet time
(time.windows.com).
3. Sebagai contoh,
untuk bulan September
2009 (sebenarnya untuk
September tiap tahun)
– saya telah
mencetak JSA versi lama
refer DEPAG 1994 &
JSA versi baru (koreksi,
revisi) khususnya untuk
waktu shalat subuh dan
waktu shalat lainnya di
Kawasan PUSPIPTEK,
Kelurahan/Kecamatan Setu,
Kota Tangerang Selatan
– Propinsi Banten,
yang berlaku sampai
radius 27 km. Sebagaimana
terlihat di halaman
berikut.
ϕ =
19,5ο ϕ =
14,6οϕ =
15οϕ =
18οWSA atau
JSSMWSA Revisi Mundur
τ = +20 menit Maju
τ = -12 menit R A M A
D H A N 1 4 3 0 H
4.
Untuk menghisab waktu
shalat subuh pada point 2
& 3 di atas,
digunakan data observasi
para ahli hisab dan
syar’i Arab Saudi
dengan 365 data
pengamatan tentang
“Fajar Shadiq =
Fajar Haqiqi = Fajar
Syar’i ”,
sebagaimana telah
dijelaskan pada edisi ke
11 Majalah Qiblati.
Digunakan nilai ϕ
rata-rata yaitu 14,6o.
Nilai ini merupakan
parameter terbaik saat
ini ketimbang yang
dianjurkan oleh dua pakar
Inggeris (Mr. Lehman dan
Mr. Melthe) di Aswan
Mesir 1908-1909, yaitu ϕ
= 19o. Parameter terakhir
inilah yang ditelan
mentah-mentah para ahli
hisab Islam tanpa mau
mengkonfirmasi (tidak
meneliti) apa sudah
sesuai dengan ketentuan
syari’i (hadist
nabi) atau tidak. Berawal
disinilah salah kaprah
waktu shalat subuh
tersebut, ditambah dengan
sikap ingin berhati-hati
saat bulan Ramadhan
dengan memajukan waktunya
shalat subuh (memperbesar
nilai ϕ).
Jadi
sudah satu abad ummat
Islam shalat subuh bukan
pada waktunya yang
syar’i, lalu siapa
yang berdosa di sini ?,
dosa bersamakah yang
turun temurun ?. Jangan
pikirkan dosanya dulu,
tinggalkan perdebatan.
lebih baik kita berlapang
dada dan bertekad bersama
(kemauan bersama) kembali
kemetode syar’i
sebagaimana yang sudah
dilakukan/dipraktekkan
pakar-pakar hisab dan
syari’i di Arab
Saudi. Saudara saudaraku
bagi yang pernah naik
haji, tidakkah anda
melihat dan memperhatikan
bahwasanya tatkala kita
shalat subuh di Mesjid
Haram Mekkah ataupun di
Mesjid Nabawi Madina saat
itu langit di arah timur
tampak putih kemerahan
(fajar shadiq).
5.
Waktu shalat Isya: Karena
waktu remang-remang
(twilight) saat fajar dan
senja itu berproses
simetri, maka ada
kemungkinan waktu shalat
Isya yang kita lakukan
sekarang ini di negara
Islam mundur sekitar 12 ~
18 menit dari waktu
seharusnya (yaitu ketika
megah merah di langit
sudah hilang). Hal ini
tidak membawa masalah
bagi yang mau
melaksanakan shalat Isya.
Yang bermasalah adalah
orang-orang yang
mengakhirkan shalat
maghrib_nya, karena ada
kemungkinan saat dia
shalat maghrib sebenarnya
waktu shalat Isya sudah
masuk.
6. Untuk para
ahli hisab Islam dan ahli
syar’i di
Indonesia, perlu juga
melakukan penelitian
(observasi) mengenai
Fajar Shadiq selama
setahun penuh di NKRI,
yaitu di Lintang nol
(Sekitar Pontianak,
Toli-Toli), di lintang
terbawah (daerah pantura
JAWA, Bali, Lombok,
Sumbawa sampai Timor
Barat) dan di lintang
teratas (Aceh Utara,
Menado, Kepulauan Sangir
Talaud, Kepulauan
Halmahera Utara, Pesisisr
Utara Papua).
Bukan
hanya itu, tapi perlu
juga penelitian
(observasi) kapan mulai
lenyap megah merah di
langit pada akhir waktu
maghrib yang berarti
mengidikasikan waktu Isya
mulai masuk.
Jadi
kita perlu mencari
korelasi antara Koordinat
Tempat Pengamatan dengan
waktu-waktu mulainya
Fajar Shadiq (garis putih
/ kemerahan dikegelapan)
yang terkait dengan
posisi matahari di bawah
ufuk. Demikian juga
observasi waktu
syar’i untuk mulai
masuknya waktu Isya.
7. Kebanyakan ahli
hisab menghitung masuknya
waktu Isya berdasarkan
saat dimulainya kegelapan
astronomis (astronomical
twilight), yaitu pada
saat sudut elevasi
matahari berada 18o di
bawa ufuk. Tapi yang
benar menurut
syari’i adalah saat
megah merah di langit
remang-remang sudah
menghilang total (menurut
hadist), yang ada
kemungkinan sudut elevasi
matahari saat itu sekitar
15o. Ini perlu pegamatan
dan penelitian seperti
saya tuliskan pada point
6 di atas. Dalil tentang
akhir waktu magrib, yang
berarti awal waktu Isya
pembaca bisa menyimak
hadist shahih Muslim
no.568 : Dari
‘Abdullah bin Umar
r.a., katanya Rasulullah
shallallaahu
‘alaihi wa sallam
bersabda: “Shalat
Subuh waktunya hingga
matahari
mulai
terbit (sunrise). Shalat
Dhuhur waktunya hingga
datang waktu Ashar.
Shalat Ashar waktunya
hingga cahaya matahari
telah menguning. Shalat
Maghrib waktunya hingga
hilang mega merah. Shalat
Isya waktunya hingga
seperdua malam”.
Dalil senada dapat
disimak pada hadist no.
569 dan no. 570 shahih
Muslim. Dalam hal ini,
hisab waktu Shalat Isya
dan waktu Shalat Subuh
selama ini yang relevan
dan sesuai syar’i
adalah metode yang
dianjurkan oleh ISNA
(Islamic Society of North
America), mereka
menentukan parameter ϕ =
15o untuk kedua waktu
shalat tersebut.
8.
Saya prediksi (yakin) di
setiap tempat di
permukaan bumi akan
melihat awal Fajar Shadiq
dan awal menghilangnya
megah merah di langit
saat waktu mulainya Isya
– akan hampir sama
korelasinya terhadap
sudut elevasi matahari di
bawah ufuk. Mungkin
terdapat perbedaan sudut
(Δϕ) akibat
perbedaan kepadatan
atmosfir (akibat beda
temperatur) saat matahari
terbit dan matahari
terbenam. Atmosfir
bersifat prismatis saat
mendispersikan sinar
matahari dengan sudut
elevasi kecil disekitar
nol derajat di bawah
ufuk, saat-saat itulah
bermula fenomena
remang-remang (twilight)
fajar dan senja.
Untuk pengamatan harian
dalam setahun, diprediksi
akan kita peroleh suatu
nilai sudut ϕ yang
sifatnya satu siklus
pertahun, nilai-nilai ϕ
berubah (ber_ayun)
disekitar nilai rata-rata
tahunannya dengan
amplitudo sekita 0,5o ~
1,2o busur. Hal ini mudah
diduga akibat sudut
deklinasi matahari
demikian pula equation
time berubah satu siklus
pertahun pada tiap tempat
dimuka bumi.
Demikianlah Allah
Azza’ wa
Jalla’ menciptakan
alam fisik (alam raya)
serba teratur dan serba
simetris, sehingga
tanda-tanda alam yang
digunakan dahulu para
salafus shaleh saat
menentukan masuknya
waktu-waktu shalat selain
mudah diamati, juga
sekarang bisa dihitung
(hisab) secara akurat.
Kesalahan penentuan
waktu subuh yang
kecepatan dan waktu Isya
yang molor – itu
akibat salah masukan
(input) pada perhitungan
(software), hal mana
penye-babnya sudah
dijelaskan pada butir-4
di atas. Sekali lagi saya
sampaikan, bahwa tidak
ada impaknya (sangsi
syar’i) memundurkan
waktu shalat Isya, bahkan
afdhal dilakukan pada
sepertiga awal malam,
yaitu kira-kira jam 22
malam (silahkan baca
hadist shahih Muslim
No.596 dan 597). Tapi
bukankah untuk membuat
jadwal shalat, yang
diperlukan adalah waktu
awal masuknya shalat ?.
Sehingga dalam hal ini
akan mencegah ummat yang
shalat magrib di akhir
waktu tetap masih sah
shalatnya.
9. Kepada
team Qiblati (team
pemburu dan pengamat
fajar shadiq, foto-foto
fajar shadiq yang diliput
dan disajikan dalam
Qiblati edisi-11 lumayan
bagus (1.Desa Jun Rejo,
Kota Batu Jatim; 2.Agro
Wisata Batu; 3.Pantai
Jumiyang Desa Pademawu
Pamekasan Madura). Tapi
ada kekurangannya, yaitu
team tidak mengukur
koordinat tempat
(latitude, longitude
& altitude) di mana
anda mengamati fajar
shadiq. Kalau data
tersebut juga dicamtumkan
dalam Qiblati edisi-11,
saya sebagai pembaca bisa
menghitung balik posisi
matahari saat itu berapa
derajat di bawah ufuk.
Saran saya, kalau memburu
fajar shadiq di lain
waktu perlu membawa
perlengkapan tambahan
lagi, yaitu : Hand GPS,
Altimeter Presisi, [Opsi
tambahan, hanya bila ada
/ tersedia : Pengukur
Temperatur udara, Pegukur
Kecepatan Angin, Pengukur
Kelembaban Udara.].
Disamping itu sebaiknya
team juga memburu dan
membidik saat megah merah
awan dilangit - perlahan
menghilang di ujung akhir
waktu Maghrib. Penentuan
awal masuknya waktu Isya
secara akurat bisa
diperoleh dari pengamatan
berakhirnya megah merah
ini dilangit Barat.
Selama ini perhitungan
masuknya waktu Isya masih
sangat variatif asumsi
parameter ϕ (Isya).
Penentuan parameter ini
secara akurat akan
mencegah orang yang
shalat Mahgrib_nya
telat/mundur (diakhir
waktu) masih sah.
Demikianlah komentar
ini, dan saya akhiri
dengan;
•
Firman Allah Ta’ala
:
“Dan
hendaklah diantara kamu
ada segolongan orang yang
menyeru kepada kebajikan,
menyuruh (berbuat) yang
ma’ruf dan mencegah
dari yang mungkar. Dan
mereka itulah orang-orang
yang beruntung.”
(QS. Ali‘Imran:
104).
• Dari
Abu Sa’id al-Khudri
radhiyallahu ‘anhu,
ia berkata, “Aku
mendengar Rasulullah
shallallaahu
‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Barangsiapa di
antara kalian melihat
kemungkaran, maka
hendaklah ia mengubahnya
dengan tangannya. Jika ia
tak mampu, maka dengan
lisannya, dan jika tidak
mampu maka dengan hatinya
dan itulah selemah-lemah
imam”. (Shahih: HR.
Muslim No.49, Ahmad
III/10, Abu Dawud
No.1140, an-Nasa-I
VIII/111-112 dan
at-Tirmidzi No.2172).
• Semoga Allah
Azza’ wa
Jalla’ mengberi
kita hidayah, untuk
membetulkan hal-hal yang
keliru agar supaya dalil
syar’i tentang awal
masuknya waktu subuh
maupun Isya klop sama
dengan parameter ϕ
(Subuh/Isya) pada
Pengamatan Cakrawala dan
Ilmu Astronomi Modern.
Berlapang dadalah atas
informasi yang baru serta
menghindari perdebatan
yang tidak
berguna......amin.
--------------------
Komentator : Sofyan Said,
mantan staf
B2TKS-BPPT---------------
-----
17 Ramadhan
1430 H 07 September
2009
Jazakumullah khoir Bapak Sofyan Said atas informasi dan dukungannya serta nasehat yang bapak sampaikan, semoga Allah memudahkan da'wah ini.
--------------------------
*Admin Qiblati.com
Artikel
Ceramah
Berita
Alhamdulillah, maju terus team qiblati
alhamduliilah. kami mendukung dakwahnya tim qiblati
Alhamdulillah...inilah slh 1 bukti bhw kbenaran it pst akan muncul&tdk…
assalamu alaikum,
akhi mohon petunjuknya kira2 pukul brapa fajar shdiq…
Perlu berhati-hati Penetapan AWal waktu Fajar Sadiq. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah…
Syukran katsiran atas surat antum.
alhamdulillah sedari…
maaf, jangan bikin ruwet.
jangan memecah belah persatuan umat.
kalender…
pontianak berapa derajat ISNA ??
"Untuk observasi antum, ana yakin ada kesalahan teknis… (afwan jk…
Muhammad : Assalamu’alaikum ustadz dari foto Pak AR yang disudut…