Markus: Ternyata Puasa bukanlah penyiksaan, melainkan penyucian jiwa dan badan.
Media massa Emirat Arab pada tanggal 10 Jumadatstsani 1428 H (26 Juni 2007) menyiarkan sebuah acara yang menampilkan beberapa orang muallaf (orang yang baru masuk Islam) berbicara tentang keislaman dan pengalaman pertama mereka dalam berpuasa Ramadhan. Diantara mereka adalah:
Ahmad Mukmin, nama aslinya adalah Markus, berkebangsaan Filiphina, bekerja sebagai kabag administrasi pada sebuah perusahaan, dia berkata:
"Dulu, aku melecehkan bulan Ramadhan dan syariat puasa, serta orang-orang muslim yang menyiksa diri mereka dengan puasa. Dulu aku seorang Nasrani yang ikut-ikutan, pergi ke gereja tidak rutin. Ramadhan, menurutku dan sebagian teman adalah sebuah pengekangan, sebuah bulan yang mengharuskan kita berdiam diri di rumah, café-café ditutup selama bulan Ramadhan, dan tidak ada yang kita lakukan kecuali berdiam diri di rumah."
Mukmin menambahkan: "Bukan hanya itu yang membuatku lari dari Ramadhan, di antaranya adalah ritual keras terhadap tubuh dan jiwa. Aku percaya bahwa tubuh adalah sebuah anugerah dari Allah. Dia memiliki hak-hak yang wajib kita tunaikan kapan saja Dia kehendaki. Sedangkan puasa hanyalah sebuah perbuatan penyiksaan yang tidak beralasan atau tidak logis."
Dia berkata: "Sekitar lima bulan yang lalu Allah -Subhanahu wa ta'ala- memberiku hidayah untuk memeluk Islam. Aku memiliki seorang sahabat yang senantiasa menyertaiku di penginapan, aku hidup bersamanya selama bertahun-tahun. Sejak sahabatku itu masuk Islam, dia banyak berusaha untuk menarikku kepada Islam. Dia banyak berbicara tentang Islam, menyodorkan kepadaku buku-buku Islami hingga Allah -Subhanahu wa ta'ala- melapangkan dadaku untuk memeluk Islam. Maka sekarang inilah aku mulai melaksanakan kewajiban puasa untuk pertama kalinya."
Dia menjelaskan: "Setelah Allah -Subhanahu wa ta'ala- memberiku hidayah untuk memeluk Islam, tersingkaplah bahwa seluruh pemikiranku tentang hak-hak tubuh ternyata tidak benar, dan perbaikan pada tubuh sekali dalam setahun adalah sebuah hikmah yang agung. Oleh karena itulah Allah -Subhanahu wa ta'ala- mewajibkan puasa atas kaum muslimin sekali dalam setahun, dan tidak menjadikannya sepanjang tahun. Sesungguhnya puasa, menurut pemahamanku adalah sebuah bentuk pendekatan diri seorang muslim kepada Rabb-nya, dan tidaklah berlebihan jika kukatakan: "Sesungguhnya aku sekarang merasakan tingginya keruhanianku dan kebeningan jiwaku, yang belum pernah aku merasakannya sepanjang hidupku."
Toni : Puasa penghapus dosa dan pembebas dari api neraka
Abdurrahman Yusuf atau Toni –nama panggilan sebelum masuk Islama- berkebangsaan Libanon, Allah -Subhanahu wa ta'ala- membuka hati dan memberinya hidayah kepada jalan Islam beberapa bulan yang lalu. Dia telah berpuasa pada tahun ini untuk yang pertama kalinya. Dia menegaskan bahwa dia merasakan kebahagiaan yang berlimpah seraya berkata: "Sebenarnya, sejak Allah -Subhanahu wa ta'ala- memberiku hidayah kepada Islam, aku telah terbiasa berpuasa Senin-Kamis setiap minggunya sebagai pengamalan terhadap sunnah Nabi yang mulia, dengan tujuan untuk menghapus berbagai kesalahan dan dosa-dosa yang telah kulakukan sebelum Islam. Akan tetapi puasa Ramadhan berbeda sama sekali dengan hari-hari tersebut. Ramadhan memiliki hembusan-hembusan ruhani yang mengangkat serta membersihkan jiwa yang tidak akan dirasakan kecuali pada hari-hari dan malam-malamnya."
Dia menambahkan: "Termasuk juga shalat, qiyamullail, dan tahajjud yang berbeda dengannya pada hari-hari yang lain. Cukuplah bahwa Allah -Subhanahu wa ta'ala- melimpahkan anugerah kepada para hamba-Nya yang berpuasa dan melakukan qiyamullail pada bulan Ramadhan, serta membebaskan mereka dari api neraka agar seorang muslim bisa merasakan kebesaran dan keagungan bulan yang mulia tersebut."
Abdurrahman mengisyaratkan kesedihan yang mendalam, bahwa dulu dia telah melakukan banyak perbuatan dosa terhadap hak Islam dan kaum muslimin, saat terjadi perang "saudara" di Libanon. Dia berharap agar Allah -Subhanahu wa ta'ala- mengampuni dan menghapus dosa-dosanya tersebut.
Carol: Ramadhan bulan ibadah; merasa nikmat dengan puasa dan bahagia dengan tarawih.
Adapun Fathimah az-Zahra` Muhammad -yang nama aslinya adalah Carol- maka dia dulu hidup di tengah sebuah keluarga Scotlandia beragama Protestan. Masa kecilnya dihabiskan di ladang pertanian yang subur. Hal ini menjadikannya bisa memiliki waktu untuk berfikir jauh dari keruwetan kota. Dia berkata: "Setelah aku menyelesaikan studi di London, aku mendapatkan sebuah pekerjaan pada sebuah hotel di Emirat. Aku tinggal di sana beberapa tahun hingga aku berkenalan dengan seorang pemuda muslim Arab yang berbicara kepadaku tentang Islam. Mulailah aku bersamanya melakukan pengembaraan dalam membahas, membaca, serta meneliti sebagian besar buku-buku tentang Islam yang ditulis dalam bahasa Inggris. Akupun tahu bahwa Islam adalah agama yang hak, memuliakan manusia, dan agama yang memberikan perhatian serius terhadap hak-hak wanita, laki-laki, dan anak-anak."
Dia menambahkan: "Aku mendapatkan bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia yang lurus bersih. Sebagaimana aku dapatkan dalam al-Qur`an terdapat jawaban yang memadai (memuaskan) terhadap berbagai pertanyaan yang berputar di otak dan sanubariku. Maka akupun masuk Islam kemudian menikah dengan pemuda tersebut."
Tentang percobaan puasa untuk yang pertama kali, dia berkata: "Aku tidak mampu menggambarkan kebahagiaanku dengan puasa Ramadhan pada tahun ini. Suasana Ramadhan membuat kita merasa dekat dengan Allah -Subhanahu wa ta'ala-, juga bahwa bulan tersebut adalah bulan ibadah, kita bersemangat untuk menambah kedekatan kita kepada Allah -Subhanahu wa ta'ala- dengan ibadah dan shalat."
Fathimah menjelaskan bahwa dia merasakan kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan saat shalat tarawih berjama'ah bersama banyak wanita muslimah.
Caroline Gordan: Puasa adalah ibadah yang paling nikmat serta paling dekat dengan hatiku. Sementara Ruku' dan sujud adalah sebuah olahraga tubuh dan ruhani yang menakjubkan.
Aminah Gordan atau dari Afrika Selatan menegaskan bahwa yang menariknya kepada Islam -pada pokoknya- adalah tingginya nilai ruhani dalam gerakan-gerakan tubuh saat ruku' dan sujud dalam shalat. Dia berkata: "Puasa adalah sebuah bentuk dari bentuk-bentuk peningkatan roh dan jiwa yang baik. Hal inilah yang menjadi wasilah (jalan)ku menuju Islam. Setelah itu puasa dan bulan Ramadhan adalah termasuk ritual agama yang paling nikmat serta paling dekat dengan hatiku."
Dia menambahkan: "Aku telah hidup bertahun-tahun, mencari berbagai sarana untuk memuaskan jiwaku. Dahulu aku sangat gemar duduk merenung, aku banyak membaca buku-buku filsafat Timur, akan tetapi aku belum pernah sampai pada tingkatan yang memuaskan. Di tengah pekerjaanku di Emirat, tiba-tiba saja aku telah berada di tengah sebagian kaum muslimin."
Dia melanjutkan: "Orang-orang muslim tersebut konsisten dengan shalat tepat pada waktunya. Di mana saja berada ketika datang waktunya, mereka menunaikan tanpa mengakhirkannya. Kuperhatikan gerakan-gerakan mereka dalam ruku' dan sujud, pemandangan tersebut sangat berpengaruh. Ruku' dan sujud adalah sebuah olahraga tubuh dan ruhani yang menakjubkan."
Aminah berkata: "Akupun melakukan shalat dengan ruku' dan sujud sebelum aku masuk Islam. Aku merasakan ketinggian roh dan kebersihan sanubariku yang aku belum pernah merasakan sebelumnya. Sejak saat itu, aku mulai mencari tahu tentang Islam hingga Allah -Subhanahu wa ta'ala- memberiku hidayah kepada Islam. Akupun masuk Islam dan ketenangan jiwapun meliputiku." (AR)*
* Bundel Qiblati 4
Aqidah
Dakwah
Fiqh
Hadits
Koreksi
Khutbah
Tarbiyah
Adab
Tsaqafah
Kisah