MAKNA, RUKUN, DAN KONSEKUENSI SYAHADAT [لاإله إلا الله]
Oleh: M. Mujib Ansor, SH.
Ma’asyirol Muslimin, jamaah Jum’at Rahimakumullah
Pendahuluan
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah yang telah memberi nikmat iman dan Islam. Karena inilah jalan satu-satunya untuk sampai ke surga Allah. Allah -Subhanahu wata'ala- berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Ali Imran : 19)
Dan Allah -Subhanahu wata'ala- berfirman :
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85)
Kemudian, setelah itu kita harus membangun Islam kita ini di atas landasan ilmu yang benar, yaitu ilmu yang berdasarkan Qur’an dan Sunnah mengikuti pemahaman para ulama salaf. Karena dengan landasan ilmu yang benar inilah yang dapat menghantarkan kita kepada jalan keselamatan, jalan yang diridhai Allah -Subhanahu wata'ala-.
Dan diantara yang harus kita ilmui adalah memahami “kalimat tauhid” secara benar, dan menjaga kalimat ini hingga akhir hayat kita. Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
« مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ »
“Barangsiapa yang akhir hayatnya mengucapkan [لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ] maka masuk surga.” (HR. HR. Abu Dawud (2709), Ahmad (21024), hadits shahih, Talkhis Ahkam Jana’iz No. 13)
Dan Allah -Subhanahu wata'ala- berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
Hadirin, para jamaah rahimakumullah!
Setiap muslim pasti mengucapkan dua kalimat syahadat:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Sebab syarat masuk Islam atau rukun Islam yang pertama adalah mengucapkan kalimat syahadat ini. Tetapi tidak setiap muslim dapat memahami makna, rukun dan konsekuensi dari kalimat tauhid ini. Untuk itulah, pada kesempatan ini kami akan menyampaikan masalah ini, dengan harapan semoga bisa meningkatkan dan memperbaiki aqidah kita, ‘ala manhaj ahlissunnah waljama’ah, amin.
Ma’asyirol Muslimin rhm!
Makna Syahadat [لاَإْلَهَ إِلاَّ اللهُ]
Secara bahasa [إِلَهٌ] berarti sesembahan. [أَلِهَ يَأْلَهُ = menyembah]. Kata [إِله] mengikuti wazan [فِعالٌ] yang bermakna obyek. Seperti kata [كِتَاَبٌ] bermakna [مَكْتُوْبٌ] = yang ditulis. [فِرَاشٌ] artinya [مَفْروشٌ] = yang digelari (tikar). Jadi [إله] artinya [مألوه] = yang disembah, atau sesembahan.
Jadi [إله] artinya sesembahan / tuhan yang disembah. Sehingga [لاإله إلا الله] diartikan “tidak ada sesembahan kecuali Allah”. Ini secara bahasa sudah benar, tetapi secara istilah syariat masih kurang. Karena dalam syari’at, ada tuhan yang hak (benar) dan ada tuhan batil. Allah berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang hak, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj: 62)
Dan firman-Nya:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“Demikianlah, karena sesunggunya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Lukman: 30)
Maka mengartikannya harus tegas dan benar. Sehingga makna [لاإله إلا الله] yang benar adalah [لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ اللهُ] artinya “Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah” atau “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Makna "sesembahan" itu dari bahasa, sedangkan “Hak” itu dari al-Qur’an.
Sehingga tidak cukup diartikan “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Karena realitasnya, tuhan yang disembah manusia itu banyak, seperti: batu, pohon, patung, sapi, ular, keris, bintang, Nyi Roro Kidul, kuburan, dewa-dewa, Yesus, Tri Murti, Sang Hyang Widhi dll. Tetapi semuanya itu adalah tuhan batil, yang hak disembah hanyalah Allah.
Ma’asyirol Muslimin rhm!
Yang dimaksud menyembah ialah mencintai dengan sangat, takut dengan sangat, mengharap dengan sangat, yang melahirkan pengagungan. Orang mukmin adalah menyembah Allah, maka ia mencintai Allah, takut pada Allah, mengharap kepada Allah, bergantung pada Allah dan mengagungkan Allah saja. Kalau ada orang yang mencintai keris, takut keris, mengharap pada keris, bergantung pada keris, dan mengagungkan keris, maka orang ini disebut menyembah keris. Demikian pula orang yang mengharap pada kuburan, bergantung pada kuburan, dan mengagungkan kuburan, maka inilah yang disebut menyembah kuburan.
Jadi menyembah itu tidak harus ruku’ dan sujud saja. Tetapi bisa berbentuk sesajen, do’a, ketergantungan, dan pengagungan dsb.
Dan semua sesembahan selain Allah itu batil, harus ditolak. Itulah makna kalimat tauhid Islam [لاإله إلا الله] itu.
ð [لاإله] artinya menafikan hak disembah dari selain Allah, siapapun dan apapun bentuknya.
ð [إلا الله] adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.
Rukun Syahadat لاإله إلا الله
* Inilah 2 rukun syahadat [لاإله إلا الله] itu:
Pertama, an-Nafyu atau peniadaan (لاإله], yaitu meniadakan semua sesembahan selain Allah atau membatalkan syirik dengan segala macam bentuknya, dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.
Kedua, al-Itsbat atau penetapan (إلا الله], yaitu menetapkan bahwa hanya Allahlah tuhan yang berhak disembah, dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.
Makna dua rukun ini banyak disebut dalam al-Qur’an, seperti firman Allah:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا
“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat….” (QS. Al-Baqarah: 256)
* Firman Allah [فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ ] itu adalah makna dari [لاإله ], rukun yang pertama.
* dan [وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ ] adalah makna dari rukun kedua [ إلا الله ].
Jadi beriman kepada Allah itu harus memenuhi dua rukun ini, yaitu meniadakan (mengingkari) tuhan-tuhan selain Allah, dan kedua menetapkan hanya Allah lah Tuhan yang berhak disembah.
Itu yang disebut tauhid. Kalau hanya menyebut Allah Yang Maha Esa, atau apalagi Tuhan Yang Maha Esa, maka ini belum tauhid, karena belum menolak tuhan (sesembahan) selain Allah, bisa saja selain iman kepada Allah juga masih mengakui tuhan atau sesembahan yang lain, di samping Allah. Maka inilah yang disebut syirik.
Ma’asyirol muslimin rhm!
Konsekuensi Syahadat لاإله إلا الله
Setelah kita memahami makna yang benar dari [لاإله إلا الله] dan dua rukun [لاإله إلا الله], maka selanjutnya konsekuensi dari syahadat [لاإله إلا الله] adalah:
Allah swt berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun….” (QS. An-Nisa’: 36)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut…” (QS. An-Nahl: 36)
· Thaghut adalah apa saja yang disembah selain Allah swt.
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah!
Kesimpulan:
Setiap muslim yang sudah bersyahadat [لاإله إلا الله] maka ia harus meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah, yaitu menjauhi syirik dan hanya beribadah kepada Allah saja (tauhid).
Ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah saja itu, misalnya: shalat, puasa, haji, qurban, nadzar, dzikir, do’a, khouf (takut), roja’ (mengharap), tawakkal dsb.
Semua itu harus ditujukan kepada Allah saja, tidak boleh kepada yang lain. Kalau disamping ditujukan kepada Allah, kemudian juga ditujukan kepada yang lain, maka inilah yang disebut SYIRIK (menyekutukan Allah). Na’udzu billahi min dzalik.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus, amin. [*]
Sumber Rujukan:
Aqidah
Dakwah
Fiqh
Hadits
Koreksi
Khutbah
Tarbiyah
Adab
Tsaqafah
Kisah