Selamat Datang |  Login

Keutamaan Bulan Sya'ban, Dan  Bid'ah Nishfu Sya'ban

Diangkat dari Khutbah Jum'at Syaikh Khalid af-Rasyid,

Imam Masjid Umar ibn Khaththab Riyadh

 

Segala puji bagi Allah -Subhanahu wata'ala- atas kebaikan-Nya, ucapan syukur bagi-Nya -Subhanahu wata'ala- atas taufiq dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan mengagungkan urusan-urusan-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- adalah hamba dan utusan-Nya yang mengajak kepada keridhaan-Nya.

Aku wasiatkan kepada anda sekalian, juga kepada diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah -Subhanahu wata'ala-.

Bertakwalah anda sekalian wahai hamba-hamba Allah. Bertakwalah dengan sebenar-benar takwa, dikarenakan dengan sebab takwa keberkahan akan tercurah, dan rahmatpun akan melimpah.

 

Puasa Sya'ban:

Tatkala Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- melihat perhatian manusia terhadap bulan Rajab pada masa jahiliyah, mereka sangat mengagungkan dan melebihkan atas seluruh bulan, dan tatkala beliau melihat kaum muslimin berambisi untuk mengagungkan bulan al-Qur`an (Ramadhan), maka beliau -Shalallahu alaihi wa salam- berkeinginan untuk menjelaskan kepada mereka keutamaan bulan-bulan dan hari-hari yang lain.

Dari Usamah bin Zaid d, bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, seraya berkata: "Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihat anda berpuasa pada sebuah bulan dari bulan-bulan seperti puasa anda pada bulan Sya'ban." Maka beliau -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

"(Bulan Sya'ban) itu adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia, bulan yang berada di antara Rajab dan Ramadhan, itu adalah bulan yang di dalamnya amal-amal diangkat kepada rabbul 'alamin, dan aku suka jika amalku diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa." (Sunan an-Nasa`i (8/59), dihasankan oleh al-Albani, Silsilah as-Shahihah (1898))

Pertanyaan Usamah t menunjukkan tingginya perhatian para sahabat yang mulia, serta teguhnya mereka dalam memegang sunnah Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-.

Prakteknya, Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- berpuasa penuh dalam bulan Sya'ban kecuali sedikit sekali tidaknya, sebagaimana dikabarkan oleh 'Aisyah s dalam hadits yang telah disepakati keshahihannya.

Maka, pasti ada sebuah perkara penting di balik pengkhususan puasa pada semisal bulan ini. Inilah yang diperingatkan oleh Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- dengan sabda beliau: "Itu adalah sebuah bulan yang di dalamnya amal-amal diangkat kepada Allah -Subhanahu wata'ala-."

Jadi, amal-amal para hamba diangkat pada bulan ini dari setiap tahun, dan dihadapkan (dilaporkan) pada hari Senin dan Kamis dari setiap pekannya. Maka Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- suka jika amalnya diangkat kepada rabbul 'alamin sementara beliau dalam keadaan berpuasa. Karena puasa adalah termasuk bagian dari kesabaran. Allah -Subhanahu wata'ala- berfirman:

 إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (10)

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."  (QS. Az-Zumar: 10)

Bulan Sya'ban adalah sebuah bulan agung yang diagungkan oleh Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam-, maka selayaknyalah bagi kita untuk mengagungkannya dengan memperbanyak ibadah, dan istighfar secara sempurna sebagaimana telah shahih dari Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- dalam masalah tersebut.

Barangsiapa berdo'a kepada selain Allah -Subhanahu wata'ala-, maka dia telah berbuat syirik, barangsiapa meminta kepada selain Allah -Subhanahu wata'ala- maka dia telah berbuat syirik, barangsiapa berziarah ke kuburan Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- kemudian meminta terpenuhinya hajat-hajatnya maka dia telah berbuat syirik, barangsiapa menyembelih untuk selain Allah -Subhanahu wata'ala- maka dia telah berbuat syirik, barangsiapa berhukum dengan selain syari'at Allah -Subhanahu wata'ala- dan dia ridha dengannya maka dia telah berbuat syirik, dan barangsiapa berziarah ke kuburan para wali untuk meminta hajat keperluan mereka terpenuhi maka dia telah berbuat syirik. Sementara orang musyrik tidak akan diperhatikan oleh Allah -Subhanahu wata'ala- dan tidak akan diampuni dosa-dosanya.

Hadits Lemah dan Bid'ah Sya'ban:

Di bulan Yang agung ini banyak keyakinan dan amalan yang salah, disebabkan oleh kebodohan dan tersebarnya hadits palsu. Di antara kesalahan itu adalah:

Pertama, kebid'ahan Shalat Alfiyah. Ini termasuk perkara baru dan bid'ah pada malam Nishfu Sya'ban. Yaitu shalat 100 rakaat secara berjama'ah, di dalamnya imam membaca surat al-Ikhlash sebanyak  10 kali pada setiap rakaat. Tidak ada hadits  yang benar tentang shalat ini. Hadits-hadits yang menerangkannya adalah hadits palsu, yang didustakan atas nama Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam-. Maka berhati-hatilah wahai hamba-hamba Allah dari kebid'ahan dan kesesatan.

Kedua, pengkhususan malam nishfu Sya'ban dengan shalat, dan di siangnya dengan puasa. Berdasarkan hadits:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا...

"Jika berada pada malam nishfu Sya'ban maka berdiri (shalat)lah kalian di malamnya, dan berpuasalah pada siang harinya…." (Hadits palsu, Silsilah ad-Dha'ifah (2132))

Hadits ini tidak ada asalnya, maka berhati-hatilah.

Ketiga, shalat enam rakaat pada malam nishfu sya'ban dengan niat menolak bala', memperpanjang umur, dan mendapatkan pujian dari manusia. Serta membaca Surat Yasin dan berdo'a. Itu semua adalah bid'ah dan perkara baru yang menyelisihi petunjuk Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, dan menyalahi praktek para sahabat dan ulama ahli hadits.

Para ulama telah berkata bahwa dibenci kumpul-kumpul dalam rangka menghidupkan (meramaikan, merayakan) malam-malam tersebut di dalam masjid-masjid atau selainnya.

Imam Nawawi j berkata: "Shalat Rajab -yakni shalar Raghaib- dan shalat Sya'ban adalah dua bid'ah munkar dan buruk."

Maka atas dasar inilah, wajib bagi anda sekalian wahai hamba-hamba Allah, untuk beribadah kepada Allah -Subhanahu wata'ala- dengan apa yang telah Dia syari'atkan di dalam kitab-Nya atau dengan apa yang telah datang di dalam sunnah Nabi-Nya -Shalallahu alaihi wa salam-, serta sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk setelah beliau -Shalallahu alaihi wa salam-.

Berhati-hatilah anda sekalian wahai hamba-hamba Allah, dari perkara-perkara yang menyesatkan, dikarenakan kebid'ahan adalah kesesatan dan kehancuran, di mana seorang hamba tidak akan bisa mengambil manfaat dari amalnya tersebut kecuali  semakin jauh dari Allah -Subhanahu wata'ala-.

Maka fahamilah agama kalian wahai hamba-hamba Allah…!

Hari jum'at adalah hari yang paling utama…

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling utama…

Malam lailatul qadar adalah malam yang paling utama…

Masjidil Haram adalah masjid yang paling utama…

Jibril u adalah malaikat yang paling utama…

Dan Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- adalah penghulu para nabi dan rasul, bahwa beliau adalah penghulu seluruh anak cucu Adam, dan tidak ada kesombongan.

Allah -Subhanahu wata'ala- telah memerintahkan kalian untuk bershawalat kepada beliau -Shalallahu alaihi wa salam- seraya berfirman:

 

 إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (56)

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam, serta berkahilah hamba dan Nabi-Mu, Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-, juga kepada keluarga, dan seluruh sahabat-Nya.

Ya Allah, ridhailah seluruh sahabat beliau, dan sahabat beliau yang empat, juga sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira dengan sorga, serta kepada seluruh para sahabat, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Ridhailah kami bersama mereka dengan karunia-Mu, kelembutan-Mu, kedermawanan-Mu dan kemuliaan-Mu, wahai Dzat yang Maha Pemurah.

Ibadallah…

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90)

Banyaklah berdzikir kepada Allah, maka Dia akan banyak menyebut kamu, bersyukurlah kalian kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, maka Dia akan menambah nikmat-Nya kepadamu. Sungguh dzikir kepada Allah adalah amalan terbesar. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian perbuat. (AR)[*]


* Majalah Qiblati Vol 2 Edisi 12

Copyright © 2010 Qiblati · Kontak · Syarat & Kondisi
Halaman ditampilkan selama 0.0659detik · menggunakan resource memory sebesar 1.9MB