Selamat Datang |  Login

QIBLATI MELECEHKAN ULAMA YAMAN?

 

Syubhat:

Apa benar Qiblati melecehkan ulama Yaman? Kalau tidak, bagaimana tanggapan ustadz tentang ucapan-ucapan kasar dan permusuhan yang dialamatkan kepada Qiblati, sebagaimana yang kami kutib dari "blog yang menamakan diri tukpencarialhaq dan fakta"

sebagai berikut?:

(( Qiblati lecehkan ulama Yaman. Pembaca sekalian rahimakumullah, bukanlah suatu hal yang menggembirakan jika kami harus mengupdate artikel ini “HANYA” untuk membuktikan bahwa Qiblati sungguh – sungguh merupakan majalah yang sangat-sangat jahat sebagaimana judul yang kami pilih untuk artikel ini. Update ini adalah bukti lain yang menunjukkan bahwa kebenaran dalil/hujjah dari Al-Qur’an dan Sunnah serta perkataan para ulama hanyalah sesuatu yang tidak memiliki harga dan nilai jika dibandingkan dalil caci maki dan umpatan! Kitapun yang telah membaca kisah tersebut, Qiblati menyebutnya sebagai “Nukat/cerita unik” dan kami lebih pas menyebutnya sebagai sebuah Syari’ah yang di“anekdot”kan agar pembacanya bisa tersenyum ataupun tertawa! Anekdot keji terhadap syari’ah yang tidak lebih dari “qila wa qola” (orang Jawa menyebutnya sebagai “kulak jare dodol jare” ) yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya! Tidak sepatutnya bagi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya menjadikan kedustaan sebagai wasilah dakwah apalagi mempublikasikannya sebagai sebuah lelucon untuk ditertawakan!

Dan yang sangat menyakitkan lagi, ulama Yaman-lah yang sekarang ini dijadikan maskot kedunguan Qiblati yang telah mentahbiskan Mufti Masjidil Haram sebagai penasehatnya!
Kami tampilkan satu contoh saja dan silakan pembaca membaca contoh lainnya sebagaimana bukti FAKTA yang kami sertakan…

"Seseorang dari Mesir dikenal suka ngeyel (suka membantah dalil). Suatu hari ia mendebat seorang Syekh dari Yaman: ”Mengapa kalian harus mencuci bekas jilatan anjing sebanyak 7 kali, dan mengapa salah satunya harus dengan tanah?!” Syekh dari Yaman itu menjelaskan dengan al-Qur’an, namun orang Mesir itu tetap ngeyel, tidak terima. Begitu pula saat dijelaskan dengan Hadits dan perkataan ulama ia tetap tidak terima. Maka dengan spontan ulama Yaman itu mengatakan: ”Begini saja, kita berbuat begitu –di antara alasannya– karena kamu dan manusia lain kalau mencacimaki orang mengatakan: “Anjing lho!” atau, “Dasar anak anjing kamu!” Maka orang Mesir itupun mengangguk-angguk tersenyum dan menerima. (AH)*

 

Kita berhak bertanya kepada Qiblati:

Di mana keunikan dari hujjah “kemungkaran” ini? Apakah lambang Nukat di bagian kiri yang berbentuk bulatan dengan jenggot di bagian bawah dengan mulut yang tersenyum? Ataukah karena lebih diterimanya “fatwa ngawur” ulama Yaman yang kehabisan hujjah dalam menghadapi mad’unya? Tunjukkan siapa ulama Yaman yang ngawur tersebut agar kalian tidak dicap sebagai barisan pendusta sebagaimana kedustaan ustadz Abdurrahman Tamimi dan pembebek mesranya Abu Salma dalam mengibuli umat atas nama dakwah salafiyyah yang mubarokah? Jika tidak, maka sungguh kalian telah menggunakan “ulama Yaman” sebagai simbol kehinaan dan kerendahan dan bahan tertawaan kalian!! Ataukah kedustaan adalah kenikmatan di sisi kalian?! Semoga kalian segera bertaubat kepada Allah atas penghinaan kalian terhadap kehormatan ulama Yaman dan jauh lebih besar dari itu semua adalah syariat Islam yang kalian jadikan sebagai anekdot yang sama sekali tidak unik apalagi lucu!! Tentu saja, semua bualan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan slogan Qiblati “Menyatukan Hati dalam Sunnah Nabi”! )) (penanya-Malang)

 

 

Tanggapan Qiblati:

Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ala Rasulillah wa'ala Alihi wa shahbihi mawan ittaba'a hudah. Amma ba'd:

  1. Menurut hemat kami ucapan az-Zamakhsyari agaknya cocok buat teman-teman yang salah faham tersebut. Az-Zamakhsyari berkata:

وَكَمْ مِنْ عَائِبٍ قَوْلاً صَحِيْحًا*** وَآفَتُهُ مِنَ اْلفَهْمِ السَّقِيْمِ

"Berapa banyak orang yang mencela perkataan yang benar, (ternyata) sumber penyakitnya adalah pemahaman yang sakit."

Seandainya mereka faham perkataan tentu tidak perlu ada tenaga dan pikiran yang terbuang sia-sia bahkan membawa cela tersebut.

  1. Ucapan saudara kita seperti: "Qiblati sungguh-sungguh merupakan majalah yang sangat-sangat jahat", " Anekdot keji terhadap syari’ah yang tidak lebih dari “qila wa qola” (orang Jawa menyebutnya sebagai “kulak jare dodol jare” ) yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya! Tidak sepatutnya bagi orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya menjadikan kedustaan sebagai wasilah dakwah apalagi mempublikasikannya." Lalu "yang sangat menyakitkan lagi, ulama Yaman-lah yang sekarang ini dijadikan maskot kedunguan Qiblati", "ataukah karena lebih diterimanya “fatwa ngawur” ulama Yaman yang kehabisan hujjah dalam menghadapi mad’unya? Tunjukkan siapa ulama Yaman yang ngawur tersebut agar kalian tidak dicap sebagai barisan pendusta." " Jika tidak, maka sungguh kalian telah menggunakan “ulama Yaman” sebagai simbol kehinaan dan kerendahan dan bahan tertawaan kalian!! Ataukah kedustaan adalah kenikmatan di sisi kalian?! Semoga kalian segera bertaubat kepada Allah atas penghinaan kalian terhadap kehormatan ulama Yaman" tidak lain hanyalah akibat dari kesalah pahaman di atas, dan kurangnya husnuzhan kepada sesama muslim, atau juga kurang takutnya kepada Allah di hari hisab nanti.
  2. Sebenarnya yang lebih berhak marah pada majalah Kinan adalah orang Mesir (atau lulusan Mesir) bukan orang Yaman (atau lulusan Yaman), sebab yang terkesan dibodoh-bodohkan adalah orang Mesir. Ia tidak tahu hukum air liur anjing, tidak mau menerima ayat-ayat al-Qur`an dan Hadits-hadits Nabi. Dia justru menerima saat dijawab dengan jawaban yang unik. Kalau syaikh Yaman ini, ia tampil sebagai syaikh yang cerdik dan pandai, mengetahui bagaimana cara mengatasi dan menaklukkan orang Mesir yang ngeyel tersebut.
  3. Semangat saja tidak cukup, perlu ilmu dan ketakwaan. Coba perhatikan, teman-teman tadi begitu sewot dan geramnya menanggapi cerita ulama Yaman dan orang Mesir tadi. Kita maklum, jika semakin dalam ilmu seseorang dan semakin tinggi takwanya maka ia semakin hati-hati. Ia tidak mengomentari apalagi menuduh kecuali atas dasar ilmu dan takwa. Semakin dalam ilmu dan ketakwaan maka semakin mahal ucapannya. Sebaliknya, semakin dangkal ilmu dan ketakwaan maka semakin murah ucapannya. Coba kita perhatikan, apakah Syaikh  Abu Abdirrahman Yahya ibn Ali ibn Ahmad al-Hajuri setelah membaca cerita tadi berkomentar dan menuduh kesana kemari? Tidak. Mengapa? Karena beliau 'Alim dan bertakwa- insyaallah-. Berbeda dengan sahabat kita yang mengatakan: “fatwa ngawur” ulama Yaman yang kehabisan hujjah". Jauh bukan antara sikap Syaikh al-Hajuri dan sahabat kita ini?
  4. Ulama Yaman yang dapat mematahkan kengeyelan orang Mesir tadi namanya: al-Allamah Muhammad ibn Salim al-Bihani. Beliau menulis kisah unik tadi dalam kitabnya yang berjudul al-Luma' 'Ala Kitab Ishlah al-Mujtama', dalam syarah hadits ke-94 halaman 643. Kitab tersebut ditakhrij, tahqiq dan ta'liq oleh Syaikh Abu Abdirrahman Yahya ibn Ali ibn Ahmad al-Hajuri. Diterbitkan oleh Dar al-Ashimah Riyadh, cet.1/1422 H.

 

Syaikh al-Bihani berkata:

 

وَمَرَّةً قَالَ لِي أَحَدُ الْمِصْرِيِّيْنَ: لِمَ تَغْسِلُ نَجَاسَةَ اْلكَلْبِ سَبْعًا إِحْدَاهُنَّ  بِالتُّرَابِ وَهُوَ الْحَيَوَانُ اْلأَلِيْفُ النَّظِيْفُ؟ فَقُلْتُ لَهُ وَهُوَ لاَ يَقْتَنِعُ بِالْأَدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ: لِأَنَّكُمْ إِذَا شَتَمْتُمْ أَحَداً قُلْتُمْ لَهُ: يَا ابْنَ اْلكَلْبِ، فَضَحِكَ، وَقَالَ: هَذَا دَلِيْلٌ اجْتِمَاعِيٌّ

"Pernah sekali seorang Mesir berkata kepada saya: Mengapa anda mencuci najis anjing sebanyak 7 kali yang salah satunya dicampur dengan tanah, padahal ia adalah hewan yang ramah dan bersih? Maka saya katakan, sementara ia tidak puas dengan dalil-dalil syar'i: "Karena kamu jika mencaci maki seseorang mengatakan: Wahai anak anjing! Maka ia tertawa, dan mengatakan: Ini bukti sosial."

 

  1. Setelah ini semua, kita bertanya: siapakah yang lebih dekat kepada “qila wa qola” (orang Jawa menyebutnya sebagai “kulak jare dodol jare” ) yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya? Dan siapakah yang lebih pantas diminta untuk bertaubat dari melecehkan orang? Kami tidak perlu menjawab, kami serahkan kepada para pembaca yang dikarunia nalar dan iman oleh Allah I.
  2. Sangat disayangkan, banyak orang yang terpengaruh dengan isu-isu semacam ini yang sangat dicintai oleh setan, karena sangat efektif dalam memecah belah barisan dakwah sunnah, dan menjauhkan orang dari sunnah dengan atas sunnah. Ironis memang, tapi itulah kenyataan. Oleh karena itu tidak seyogjanya seseorang thalibul ilmi menyibukkan diri dengan membaca isu-isu yang dihembuskan di internet tentang ustadz fulan dan fulan.
  3. Kalau boleh kami memberi nasehat kepada sahabat-sahabat, semoga berkenan.

al-Allamah Muhammad ibn Salim al-Bihani Syaikh Yaman yang berhasil mengkanvaskan orang ngeyel dengan senyuman tanpa harus dengan umpatan apalagi pukulan, berkata: “Wahai orang yang beriman kepada Allah, yang berhias dengan keutamaan Islam dan ajaran-ajarannya yang benar, bertakwalah kepada Allah dalam dirimu, dan janganlah menelusuri kesalahan-kesalahan manusia, dan jangan menyingkap aurat-aurat mereka. Jangan sekali-kali membeber rahasia saudaramu, karena barangsiapa membeberkan rahasia orang muslim di dunia, Allah pasti membeber rahasianya di hari kiamat.

Biasakan dirimu untuk berkata benar, dan bersikap ridhalah terhadapnya.

Berkatalah jujur, dan jangan sekali-kali mendengar ucapan orang yang mengada-ada.

Jangan mengikuti (menelusuri) ketergelinciran hamba dan menghitungnya, engkau bukanlah orang yang bekuasa atas manusia.” (hal 491)

 

"Telah dikatakan apa yang sudah dikatakan, jika benar (maka benar) jika dusta (maka dusta) maka apa udzurmu dari ucapan (mu) jika telah diucapkan? (hal. 491)

يَا مُدَّعِيًا مَا لَيْسَ لَهُ*** دُنْيَاكَ تَزُوْلُ وَتَنْقَطِعُ

وَنَتِيْجَةُ هَذَا سَيِّئَةٌ*** وَاللهُ تَعَالَى مُطَّلِعُ

“Wahai orang yang mengklaim apa yang  tidak ia miliki # Duniamu ini akan lenyap dan berhenti

Sedangkan hasilnya adalah keburukan # Dan Allah Yang Maha Tinggi, Maha mengetahui.”

      Sesungguhnya, dalam kasus ini ada pelajaran bagi orang-orang yang memiliki hati.

Semoga Allah mengampuni kita semua, termasuk sahabat-sahabat kita tadi. Aamiin. [*]

Rabo, 12 R. Tsani 1430 H.

 

ini adalah (Foto Cover Kitab) agar antum mengetahui

Copyright © 2010 Qiblati · Kontak · Syarat & Kondisi
Halaman ditampilkan selama 0.0665detik · menggunakan resource memory sebesar 1.9MB