Oleh
Abu Hamzah Al-Qomari
Agus Hasan Bashori Lc. M. Ag.
(Dirut. majalah Qiblati dan majalah anak Kinan)
Ramadhan adalah bulan nikmat, rahmat dan ampunan. Namun demikian ada yang menyambutnya dengan ketidak sukaan ini, jelas bukan sifat orang beriman. Yang lain menyambutnya dengan senang tanpa ada perasaan khawatir tidak lulus atau mendapatkan dosa. Ini sifat orang beriman namun tidak sempurna. Yang sempurna adalah merasa senang dan khawatir sekaligus. Senang akan mendapatkan Rahmat besar, dan khawatir tidak mendapatkan bagiannya.
Karena itu pernah ketika Rasulullah naik mimbar beliau mengatakan amin sebanyak 3 kali. Ketika beliau ditanya tentang hal itu beliau bersabda: Tadi saya didatangi Jibril, dia berkata: Barang siapa kedatangan bulan Ramadhan namun tidak diampuni oleh Allah maka Allah melaknatnya. Katakan aamiin. Maka saya katakana aamiin." (HR Thabrani dan Ibnu Hibban)
Rasulullah Shalallahu alahi wa salam memberi kabar gembira dan peringatan atau ancaman sekaligus dalam sabdanya:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radiallahu anhu: “Adalah Rasulullah Shalallahu alahi wa salam biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya, dengan sabdanya:
« قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ »
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Juga terdapat pada bulan ini sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya, maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i, shahih lighairih)
Agar kita mendapatkan kebaikan Ramadhan dan terhindar dari penyesalan danlaknat Allah, maka kita harus menyambutnya dengan suka cita, dengan “taubatan nashuha” disertai tekad yang bulat untuk meraih sebanyak-banyaknya kebaikan dan keberkahan di bulan suci ini. Mengisi waktunya dengan berbagai amal shaleh dan tidak lupa pula memohon kepada Allah agar menghindarkan kita dari fitnah dan keburukan dan menolong kita dalam melaksanakan ibadah berikut dengan baik dan benar:
1. Shalat 5 waktu. Karena ia adalah ibadah terbesar setelah tauhid. Ia rukun Islam ke dua. Ia adalah tiang agama. Karena itu mari kita jaga/tegakkan shalat ini dengan baik, waktu dan jamaahnya.
2. Puasa Ramadhan. Ia rukun Islam ke empat. Hukumnya wajib. Dosa besar bagi yang meninggalkannya dengan sengaja. Allah berfiman:“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Dan hikmah terbesar dari puasa Ramadhan adalah untuk membentuk “pribadi yang taqwa”.
Rasulullah Shalallahu alahi wa salam bersabda: Seluruh ibadah anak Adam adalah miliknya. Setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat hingga 700 kali lipat. Allah berfirman: kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang membalasnya." (HR. Bukhari, Muslim0.
Maksudnya: 1) puasa adalah ibadah yang paling agung keikhlasannya karena ia adalah rahasia antara dia dengan hambanya. 2) Dalam ibadah puasa terdapat ketiga macam sabar; sabar atas taat, sabar dari meninggalkan larangan Allah, dan sabar atas takdir Allah. Sementara paha;la orang yang sabar diberikan oleh Allah tanpa perhitungan. 3) sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa di hari kiamat saat orang mukmin yang punya kesalahan kepada orang lain membayar dengan kebaikannya, Allah tidak mengambil dari pahala puasanya.
3. Shalat Terawih (qiyamul Lail). Rasulullah Shalallahu alahi wa salam bersabda:
« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Siapa yang mendirikan malam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari – Muslim)
Dan itu dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah, dan sampai imam selesai. Rasulullah Shalallahu alahi wa salam bersabda:
« مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »
“Siapa shalat terawih bersama imam sampai selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Shalat malam harus kita jaga sepanjang usia kita, dalam Ramadahan maupun di luar Ramadhan. Aisyah Radiallahu anha berjkata: Jangan kamu tinggalkan shalat malam, karena Rasulullah Shalallahu alahi wa salam tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau merasa lesu maka beliau melakukannya dengan duduk."
4. Shodaqoh (sedekah)
Sedekah termasuk amalan utama di bulan Ramadhan ini. Rasulullah Shalallahu alahi wa salam adalah orang yang dermawan. Di bulan Ramadhan beliau semakin bertambah dermawannya. Bahkan dinyatakan bahwa beliau lebih dermawan dari angin yang berhembus.
Demikian pula Abu Bakar, Umar dan segenap para sahabat Radiallahu anhum, meraka berlomba-lomba dalam bersedekah di bulan Ramadhan ini. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu alahi wa salam bersabda: “Seutama-utama sedekah adalah di bulan Ramadhan.” (HR. Turmudzi)
Sedekah berbentuk apa?!
memberi makan orang yang lapar atau orang shaleh.
« أَيُّمَا مُؤْمِنٍ أَطْعَمَ مُؤْمِنًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ سَقَى مُؤْمِنًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ»
"Orang mukmin mana saja yangmemberi makan pada orang mukmin yang lapar maka Allah akan memberinya makan pada hari kiamat dari buah-buahan surga. Dan mukmin mana saja yang memberi minum pada orang mukmin yang haus maka Allah akan memberinya minum pada hari kiiamat dari minuman surga (rahiqul makhtum)." (HR. Tirmidzi, dengan sanad hasan)
Menyediakan buka puasa. Rasulullah Shalallahu alahi wa salam bersabda:
« مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ إِلَّا أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ الْمَخْتُومِ»
“Barangsiapa menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, niscaya ia akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun.” (HR. Ahmad dan Nasa’i, dan dishahihkan oleh Syekh al-Albani)
Dan sedekah-sedekah lainnya.
5. Membaca al-Qur’an dengan penuh kesungguhan.
Bulan Ramadhan adalah bulan al-Qur’an. Kita semua dianjurkan untuk:
a. memperbanyak membaca al-Qur’an dan mengkhatamkannya.
Rasulullah Shalallahu alahi wa salam “darusan” dengan malaikat Jibril setiap Ramadhan.
Usman bin Affan mengkhatamkan al-Qur’an setiap hari.
Imam Syafi’i bahkan dapat mengkhatamkan al-Qur’an 60 kali di luar shalat di bulan Ramadhan.
Al-Aswad khatam setip 2 hari sekali.
Qatadah khatam setiap 3 hari.
Imam Az-Zuhri, Imam Tsauri dan Imam Malik menutup majlis hadits dan ilmu yang biasa diisinya untuk berkonsentrasi kepada al-Qur’an.
b. menangis tatkala mendengar atau membaca al-Qur`an.
6. Tetap duduk di dalam masjid hingga terbit matahari.
Apabila Rasulullah Shalallahu alahi wa salam selesai menunaikan shalat shubuh, beliau selalu duduk di tempat shalatnya hingga terbit matahari. (HR. Muslim)
Imam Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik Radiallahu anhu dari Rasulullah Shalallahu alahi wa salam bahwa beliau bersabda:
« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ [تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ] »
“Barangsiapa shalat Fajar berjamaah di masjid kemudian ia duduk berdzikir mengingat Allah hingga terbit matahari lalu shalat dua rakaat (dhuha), maka seakan-akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. at-Turmudzi, dan dishahihkan oleh al-Albani)
7. I’tikaf, yaitu mengurung diri di dalam masjid dan mengikatnya untuk berbuat taat dan selalu mengingat Allah di dalamnya.
I’tikaf sangat dianjurkan pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, sekaligus untuk meraih Lailatul Qadar.
Rasulullah Shalallahu alahi wa salam biasa beri’tikaf selama 10 hari setiap bulan Ramadhan. Dan pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf selama 20 hari. (HR. Bukhari).
Para isteri beliau tetap melanjutkan sunnah i'tikaf ini sepeninggal beliau.
8. Umrah di bulan Ramadhan.
Rasulullah e bersabda:
« عُمْرَةٌ فِيْ رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً الْمَخْتُومِ»
“Pahala umrah di bulan Ramadhan sama seperti ibadah haji.” (HR. Bukhari dan Muslim)
9. Mencari Malam Lailatul Qadar
Rasulullah Shalallahu alahi wa salam bersabda:
« مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Barangsiapa yang mendirikan malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim)
10. Memperbanyak Dzikir, do’a dan istighfar
Memperbanyak dzikir dan doa khusunya pada waktu-waktu mustajab:
Saat berbuka
Sepertiga malam terakhir
Pada waktu sahur
Saat-saat terakhir hari jumat. Dll.
11. Tidak berbuat hal-hal yang sia-sia pada bulan Ramadhan, seperti: duduk-duduk di pinggir jalan, ngobrol, begadang, nonton TV, menyulut petasan, dan berbagai permainan lainnya.
Rasulullah Shalallahu alahi wa salam sudah mengingatkan:
« رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ »
“Betapa banyak orang berpuasa, (tetapi) bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad, dan ia menshahihkannya)
Artinya, ia tidak mendapatkan pahala puasa. Karena mata, telinga, lidah, tangan, dan hatinya tidak ikut berpuasa (tidak dijaga dari hal-hal yang dilarang oleh Allah ).
Dalam hadits lain disebutkan:
« مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ »
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minumnya.” (HR. Bukhori, Ahmad dll.)
Jadi puasa yang sempurna adalah puasa yang dilaksanakan sesuai dengan syarat dan rukunnya, melaksanakan sunnah-sunnahnya, meninggalkan dari yang membatalkan puasa, serta menjaga dari hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa. Dengan kata lain, seluruh anggota badannya ikut berpuasa dari kemaksiatan. Demikian yang disampaikan oleh para ulama’.
Begitu banyaknya amalan-amalan shalih di bulan Ramadhan yang menyebabkan para pelakunya mendapat rahmat, berkah, serta ampunan. Oleh karena itu sangat pantas kalau Baginda Rasul Shalallahu alahi wa salam mengingatkan:
« مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»
“Siapa yang tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa (alias rugi).”
Bahkan di hadits lain lebih tegas lagi disebutkan:
« فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةَ اللهِ»
“Maka sesungguhnya orang yang sengsara adalah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (HR. ath-Thabrani, dan para perawinya tsiqah)
Demikian besar hikmah dan pahala puasa. Karena itu kita harus menjaga dan melaksanakan puasa dengan sempurna. Kita perhatikan syarat, rukun dan sunnah-sunnah puasa. Juga kita jaga dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Dan termasuk kesempurnaan puasa adalah menjaga dari hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa, yaitu menjaga diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Karena
***
Disampaikan dalam ceramah menyambut Ramadhan
*Di Markas Angkatan Udara Malang
-SATHAR 32
Ibu-ibu 25 Sya'ban 1429/27-8-2008
Bapak-bapak 26 Sya'ban 1427
-SATHAR 33
Bapak-Ibu Jum'at 27 Sya'ban 1427
*Di ARMED/ Markas AD Singosari
Kamis malam 26 Sya'ban 1427
Aqidah
Dakwah
Fiqh
Hadits
Koreksi
Khutbah
Tarbiyah
Adab
Tsaqafah
Kisah