Selamat Datang |  Login

SALAF DAN INTROSPEKSI DIRI

Abu Hamzah A Hasan Bashori Lc. M.Ag




1.    Mu'awiyah ibn Abi Sufyan -Radiallahuanhu- (Al-Khalifah al-Umawi, wafat ada tahun 60 H pada usia 80 tahun)


Mu'awiyah -Radiallahuanhu-  pergi haji, lalu ia melihat sumur tua di Abwa' (satu desa dari desa-desa yang ada di wilayah al-Far' dari kota Madinah. Jarak dari Abwa' ke Juhfah dari wilayah yang paling dekat dengan Madinah adalah 23 Mil. Di sana ada kuburan Ibu Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- Aminah binti Wahb.) Kemudian ia terserang penyakit laqwah (penyakit di wajah yang menyebabkan semacam perot di pipinya. Wallahu a'lam), maka ia memasuki rumahnya di Makkah dan menutup gordennya. Lalu ia memakai surban hitam pada pipi yang tidak terkena penyakit. Setelah itu ia mengizinkan orang-orang untuk masuk. Kemudian ia berpidato, memuji-muji Allah dan menyanjung-Nya lalu berkata:


أَيُّهَا النَّاسُ ! إِنَّ ابْنَ آدَمَ بِعَرْضِ بَلاَءٍ، إمَّا مُبْتَلَى لِيُؤْجَرَ، أَوْ مُعَاقَبٌ بِذَنْبٍ، وَإِمَّا مُسْتَعْتِبٌ لِيُعْتَبَ، وَمَا أَعْتَذِرُ مِنْ وَاحِدَةٍ مِنْ ثَلاَثٍ، فَإِنِ ابْتُلِيْتُ، فَقَدْ ابْتُلِيَ الصَّالِحُوْنَ قَبْلِيْ، وَإِنْ عُوْقِبْتُ، فَقَدْ عُوْقِبَ الْخَاطِئُوْنَ قَبْلِيْ، وَمَا آمَنَ أَنْ أَكُوْنَ مِنْهُمْ، وَإِنْ مَرِضَ عُضْوٌ مِنِّي، فَمَا أُحْصِي صَحِيْحِيْ، وَلََوْ كَانَ اْلاَمْرُ إِلَى نَفْسِيْ، مَا كَانَ لِي عَلَى رَبِّي أَكْثَرَ مِمَّا أَعْطَانِيْ، فَأَنَا ابْنُ بِضْعٍ وَسِتِّيْنَ، فَرَحِمَ اللهُ مَنْ دَعَا لِي بِاْلعَافِيَةِ، فَوَاللهِ لَئِنْ عَتَبَ عَلَيَّ بَعْضُ خَاصَّتِكُمْ، لَقَدْ كُنْتٌ حَدَبًا  عَلَى عَامَّتِكُمْ،
  

 "Wahai manusia, sesungguhnya anak keturunan Adam selalu rentan cobaan. Adakalanya diberi cobaan untuk diberi pahala, atau dihukum karena dosanya, dan atau orang yang meminta ampunan untuk diampuni. Dan saya tidak mengelak dari salah satu kemungkinan itu. Jika aku diuji, maka sesungguhnya telah diuji orang-orang shalih sebelumku. Jika aku dihukum karena dosaku maka telah dihukum orang-orang yang berdosa sebelumku. Dan saya mungkin saja termasuk dari mereka. Dan jika memang sakit (biasa) salah satu bagian anggota tubuhku maka aku tidak bisa menghitum kesehatanku. Seandainya pilihan itu diberikan kepadaku tentu aku tidaklah hakku atas tuhanku lebih banyak dari pada yang sudah Dia berikan kepadaku. Saya berumur lebih dari 60 tahun. Semoga Allah merahmati orang yang mendoakanku dengan keselamatan. Demi Allah seandainya sebagian orang khusus dari kalian menyalahkanku sungguh aku sayang pada kebanyakan kalian." Maka orang-orang ramai mendoakannya, lalu Mu'awiyah menangis." (Siyarul A'lam: 3/156; Tarikhul Islam: 2/323; al-Bidayah: 8/118; Tarikh Dimasyq: 59/215) Kata Sya'bi: Orang yang pertama kali berpidato (khutbah) sambil duduk adalah Mu'awiyyah -Radiallahuanhu- tatkala badannya gemuk.


2.    Anas ibn Malik -Radiallahuanhu- (Pelayan Rasul -Shalallahu alaihi wa salam-, wafat tahun 93 H, pada usia lebih dari 100 tahun)


Anas ibn Malik -Radiallahuanhu- berkata: Pada suatu hari saya keluar bersama Umar -Radiallahuanhu- hingga masuk pagar kebun kemudian saya mendengarnya berkata, sedangkan antara saya dan beliau terhalang oleh tembok, beliau ada di dalam tembok, beliau berkata:


عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ بَخْ وَ اللهِ لَتَتَّقِيْنَ اللهَ ابْنَ الْخَطَّابِ أَوْ لِيُعَذِّبَنَّكَ

"Umar ibnul Khaththab seorang amirul mukminin? Wah, demi Allah engkau akan bertakwa kepada Allah wahai ibnul Khaththab ataukah Dia akan menyiksamu." (Ibnu Abid Dunya, Muhasabah an-Nafs, nomor 3)


3.    Ibnu Abi Mulaikah

Ibnu Abi Mulaikah -Rahimahullah- berkata: Saya menjumpai 30 sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- kesemuanya mengkhawatirkan kemunafikan atas dirinya." (Ibnu Rajab, Jami'ul Ulum wal Hikam, 407)


4.    Hasan Bashri -Rahimahullah- (Abu Sa'id, mawla Zaid ibn Tsabit, ibunya adalah mantan budak milik Ummu Salamah ummil mukminin. Melihat para sabahat besar, manusia yang paling mengerti tantang halal dan haram. Wafat di awal Rajab tahun 110 H, dishalati sehabis jum'atan di Bashrah. Begitu banyaknya yang melayat sampai shalat ashar tidak didirikan di masjid jami'.)


Hasan Bashri -Rahimahullah-  berkata:


مَا ضَرَبْتُ بِبَصَرِيْ وَلاَ نَطَقْتُ بِلِسَانَيْنِ وَلاَ بَطَشْتُ بِيَدَيْنِ وَلاَ نَهَضْتُ عَلَى قَدَمِيْ حَتَّى أَنْظُرَ عَلَى طَاعَةٍ أَوْ عَلَى مَعْصِيَةٍ فَإِنْ كَانَتْ طَاعَةً تَقَدَّمْتُ وَإِنْ كَانَتْ مَعْصِيَةً تَأَخَّرْتُ

"Saya tidak pernah menyorotkan pandangan, tidak pernah berbicara dengan dua lidah, tidak pernah memukul dengan dua tangan, dan tidak pernah bangkit di atas kakiku hingga saya melihat apakah saya di atas ketaatan atau di atas maksiat. Jika di atas taat maka saya lanjutkan, dan jika maksiat maka saya urungkan." (Ibnu Abid Dunya, al-Wara', nomor 195)


5.    Ibrahim at-Taimi -Rahimahullah-  (ibn Yazid ibn Syuraik, wari', zahid, pernah

berdiam diri selama 40 hari tanpa makan. Wafat dalam tawanan al-Hajjaj tahun 92 H)
Ibrahim al-Taimi -Rahimahullah- berkata:


مَا عَرَضْتُ عَمَلِي عَلَى قَوْلِي إِلاَّ خَشِيْتُ أَنْ أَكُوْنَ مُكَذِّباً.

"Saya tidak membandingkan amal saya dengan ucapan saya melainkan saya khawatir kalau saya seorang yang mendustakan." (Sifat al-Shafwah: 1/321)


يَنْبَغِيْ لِمَنْ لاَ يَحْزَنُ أَنْ يَخَافَ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لِأَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ قَالُوْا: " اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ " وَيَنْبَغِيْ لِمَنْ لاَ يُشْفِقُ أَنْ يَخَافَ أَنْ لاَ يَكُوْنَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ لِأَنَّهُمْ قَالُوْا: إِنَّا كُنَّا فِيْ أَهْلِنَا مُشْفِقِيْنَ.

"Orang yang tidak sedih seyogjanya khawatir termasuk ahli neraka, karena ahli surga berkata: Segala puji Bagi Allah yang telah menghilangkan kesusahan dari kami." (Fathir: 34) Dan orang yang tidak merasa takut hendaknya khawatir tidak termasuk ahlisurga, sebab ahli surga berkata: "Sesungguhnya  kamidulu di keluarga kami adalah orang-orang yang takut."


    Dia juga pernah berkata: Saya bayangkan seolah saya berada di surga memakan dari buah-buahnya, meminum dari suangainya dan memeluk bidadarinya. Kemudian saya bayangkan diri saya ada di neraka, memakan dari buah zaqqumnya, meminum dari nanahnya, merasakan beratnya rantai dan belenggunya. Lalu aku tanyakan pada diriku sendiri: Kamu ingin apa? Dia berkata: aku ingin seandainya saja aku dikembalikan ke dunia tentu aku akan beramal shalih. Saya jawab: sekarang kamu berada dalam keinginanmu itu, maka beramallah." (ibid)



6.    Ibrahim a-Nakha'i -Rahimahullah- ( mufti dan faqih Irak W. 96 )


Adalah Ibrahim an-Nakha'i -Rahimahullah- selalu menangis kepada isterinya pada hari kamis, dan isterinyapun menangis kepadanya. Ibrahim berkata: Pada hari ini amal-amal kita dilaporkan kepada Allah." (Lathaiful Ma'arif 1/138)


Di tempat lain diterangkan ia berkata:


"Pada hari ini amal-amal kita dilaporkan kepada Allah. Wahai orang yang menyombongkan ilmunya, kepada siapa kamu menyombongkan? Sementara yang kritis (melihat tajam) selalu mengawasi?! Wahai orang yang mengatakan nanti saja nanti saja (menunda-nunda amal), sampai kapan kamu menunda nunda?! Sementara Umur ini pendek sekali." (Lathaiful Ma'arif: 1/101)



7.    Abu Malik an-Nakha'i -Rahimahullah- (ad-Dimisyqi, Ibnu Sakan menyebutnya termasuk sahabat nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, tetapi yang benar beliau seorang tabi'in dan haditsnya adalah mursal)


Abu Ayyub bercerita: Abu Malik pada suatu hari berkata kepada saya:


يَا أَباَ أَيُّوْبَ احْذَرْ نَفْسَكَ عَلَى نَفْسِكَ فَإِنِّي رَأَيْتُ هُمُوْمَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي الدُّنْيَا لاَتَنْقَضِيْ وَأَيْمُ اللهِ لَئِنْ لَمْ تَأْتِ اْلآخِرَةَ وَالْمُؤْمِنَ بِالسُّرُوْرِلَقَدْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ اْلأَمْرَانِ هُمَا الدُّنْيَا وَشَقَاءُ اْلآخِرَةِ

Wahai Abu Ayyub, wasadai dirimu atas dirimu, karena aku melihat kesedihan orang mukmin di dunia tidak akan berakhir. Demi Allah seandainya tidak datang hari akhirat membawa kegembiraan kepada orang mukmin, sungguh telah berkumpul atasnya dua perkara: susahnya dunia dan sengsaranya akhirat."
Saya katakan: Bagaimana akhirat tidak membawa kegembiraan sementara dia bersusah payah untuk Allah di dunia dan beramal terus? Dia berkata:


يَا أَبَا أَيُّوْبَ فَكَيْفَ بِالْقَبُوْلِ وَ كَيْفَ بِالسَّلاَمَةِ

"Wahai Ayyub, bagaimana dengan diterimanya amal dan keselamatan?
Kemudian beliau berkata:


كَمْ مِنْ رَجُلٍ يَرَى أَنَّهُ قَدْ أَصْلَحَ شَأْنَهُ قَدْ أَصْلَحَ قُرْبَاَنَهُ قَدْ أَصْلَحَ هِمَّتَهُ قَدْ أَصْلَحَ عَمَلَهُ يُجْمَعُ ذَلِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يُضْرَبُ بِهِ وَجْهَهُ

"Betapa banyak orang yang merasa bahwa dirinya telah memperbaiki urusannya, telah memperbaiki ibadahnya, telah memerbaiki niatnya, telah memperbaiki amalnya. Ternyata semua itu nanti akan dikumpulkan pada hari kiamat kemudian dipukulkan pada wajahnya." (Muhasabah an-Nafs: 81)


8.    Waki’ ibnul Jarrah -Rahimahullah- (al-Kufi, sahabat Ibnul Mubarak, guru Imam Syafi'i, Imam yang agung, tidak pernah terlihat meludah, menyentuh kerikil dengan tangannya, bersumpah demi Allah, bergerak di majlis, duduk bersandar, dan duduk tidak menghadap kiblat. Beliau menyampaikan hadits sejak usia 33 tahun dan mengganti posisi gurunya Imam Tsauri di Makkah sepeninggalnya. Beliau memiliki kitab karangan yang sangat banyak. Lahir tahun 129, wafat sepulang dari haji ada hari Asyura' tahun 197 dalam usia 66 tahun.)


Pernah ada seorang laki-laki bernuat kasar kepada Imam Waki', maka Imam Waki' masuk rumah lalu melumuri wajahnya dengan debu kemudia keluar menemui orang itu dengan mengatakan:


"Tolong tambahkan pada Waki' karena dosanya, seandainya bukan karena dosanya engkau tidak akan dikuasakan atasnya." (Siyar A'lam: 1/342)



*Majalah Qiblati Edisi 9 Volume 3

 

Copyright © 2010 Qiblati · Kontak · Syarat & Kondisi
Halaman ditampilkan selama 0.0667detik · menggunakan resource memory sebesar 1.9MB