Selamat Datang |  Login

WASPADAI HASAD, PERMUSUHAN DAN PERPECAHAN

Abu Hamzah A Hasan Bashori Lc. M.Ag

 

Para ulama menjelaskan bahwa berlomba atau berebut sesuatu dengan perasaan tidak suka apabila orang lain yang mendapatkannya adalah tingkatan hasad yang paling awal. Adapun Hasad itu sendiri adalah berharap agar nikmat itu lepas dari orang lain, apakah mengharapkannya untuk dirinya ataukah tidak. Hasad ini akan membawa kepada sikap tadabur (saling membelakangi), kemudian tabaghudh (saling benci) kemudian taqathu’ (saling memutuskan hubungan) kemudian taqathul (saling berperang). (lihat Shahih Muslim, tahqiq Fuad abdul Baqi: 4/2274)

Berikut ini kami tuturkan cermin salaf yang menggambarkan peringatan mereka tentang bahaya hasad, permusuhan dan perpecahan serta sikap mereka yang menjaga persatuan:

1. Hatim al-Ashamm -Rahimahullah-

Hatim berkata:

 

أَصْلُ الطَّاعَةِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ : اَلْحُزْنُ وَالرِّضَا وَ الْحُبُّ، وَ أَصْلُ الْمَعْصِيَةِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ : اَلْكِبْرُ وَ الْحِرْصُ وَ الْحَسَدُ

“Pangkal ketaatan adalah tiga perkara: Sedih, ridha dan cinta. Sedangkan pangkal maksiat adalah tiga perkara, yaitu: sombong, tamak dan hasad (iri dengki) (Syu’abul Iman: 8221, 6/296)

 

2. Fudhail Ibn Iyadh -Rahimahullah-

Fudhail Ibn Iyadh -Rahimahullah- berkata:

 

َالْغِبْطَةُ مِنَ اْلاِيْمَانِ وَاْلحَسَدُ مِنَ النِّفَاقِ وَالْمُؤْمِنُ يَغْبِطُ وَلاَ يَحْسُدُ وَالْمُنَافِقُ يَحْسُدُ وَلاَ يَغْبِطُ وَالْمُؤْمِنُ يَسْتُرُ وَيَعِظُ وَيَنْصَحُ وَالْفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ وَيُفْشِيْ

Ghibthah (ingin seperti orang lain dalam kebaikan) adalah dari iman, sedangkan hasad (ingin agar nikmat hilang dari orang lain) adalah dari kemunafikan. Mukmin itu senang meniru (kebaikan) dan tidak dengki, sedangkan munafik itu dengki dan tidak suka meniru (dalam kebaikan). Mukmin itu menutupi, mengingatkan dan menasehati, sedangkan orang yang bejat adalah menodai, mencela dan menyebarkan aib.” (Hilyatul Auliya’: 8/95)

Fudhail Ibn Iyadh -Rahimahullah- dan juga Imam Syafi’i -Rahimahullah- berkata:

           

بِئْسَ الزَّادُ إِلىَ الْمَعَادِ اَلْعُدْوَانُ عَلَى الْعِبَادِ

“Seburuk-buruk bekal menuju akhirat adalah aniaya (permusuhan) terhadap para hamba Allah.” (Tarikh Dimasyq: 48/422)

 

3. Ubaidillah ibn Adiy al-Khayyar -Rahimahullah-

Ubaidillah al-Khayyar -Rahimahullah- berkata dalam majlisnya:

 

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنَا وَسَلِّمِ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنَّا

“Ya Allah selamatkanlah kami dan selamatkan orang-orang mukmin dari gangguan kami.” (Tadzkiratul Huffazh: 1/139, Min akhbari salaf, 290, 287)

 

4. Yahya Ibn Sa’id -Rahimahullah-

 

أَهْلُ الْعِلْمِ أَهْلُ تَوْسِعَةٍ وَمَا بَرِحَ الْمُفْتُوْنَ يَخْتَلِفُوْنَ فَيُحَلِّلُ هَذَا وَيُحَرِّمُ هَذَا فَلاَ يَعِيْبُ هَذَا عَلَى هَذَا وَلاَ هَذَا عَلَى هَذَا وَإِنَّ الْمَسْئَلَةَ لَتَرِدُ عَلَى أَحَدِهِمْ كَالْجَبَلِ فَإِذَا فُتِحَ لَهُ بَابَهَا قَالَ مَا أَهْوَنَ هَذِهِ

“Para ulama itu adalah orang-orang yang lapang dada. Para mufti senantiasa berselisih; yang ini menghalalkan dan yang ini mengharamkan, tetapi yang ini tidak mencela yang itu, dan yang itu tidak mencela yang ini. Sesungguhnya persoalan itu datang kepada salah seorang mereka bagaikan sebuah gunung, jika ia telah dibukakan pintu untuknya dia berkata: Alangkah mudahnya ini.” (Tadzkiratul Huffazh: 1/139)

 

5. Muhammad ibn Idris asy-Syafi’I -Rahimahullah-

Yunus Ibn Abdil A’la -Rahimahullah- berkata: "Saya belum pernah melihat manusia yang lebih berakal dari pada Syafi’i. Sampai-sampai ia berkata “Seandainya seluruh umat dikumpulkan tentu akalnya mencukupi.” (Siyar A’lam an-Nubala: 10/15)

Sebagai buktinya Yunus bercerita: "Pernah aku berdebat dengannya tentang satu masalah, kemudian kami berpisah. Saat kami bertemu Syafi’i memegang tanganku lalu berkata: “Wahai Abu Musa, tidakkah kita tetap bersaudara meskipun kita tidak sepakat dalam satu masalah?!"

Al-Dzahabi -Rahimahullah- berkata: "Ini menunjukkan kesempurnaan akal imam ini dan dalamnya pemahaman fiqihnya? Jadi para ulama tidak henti-hentinya berselisih pendapat.” (Siyar A’lam an-Nubala: 10/16, Tarikh Ibn Asakir 14/402))

Imam Syafi’i -Rahimahullah- pernah berkata kepada Yunus Ibn Abdil A’la al-Shadafi:

 

يَا يُوْنُسُ اِذَا بَلَغَكَ عَنْ صَدِيْقٍ لَكَ مَا تَكْرَهُهُ فَاِيَّاكَ اَنْ تُبَادِرَهُ بِاْلعَدَاوَةِ وَقَطْعِ اْلِولاَيَةِ فَتَكُوْنَ مِمَّنْ اَزَالَ يَقِيْنَهُ بِشَكٍّ، وَلَكِنْ اِلْقَهُ وَقُلْ لَهُ: بَلَغَنِيْ عَنْكَ كَذَا وَكَذَا وَاحْذَرْ اَنْ تُسَمِّى لَهُ اْلمُبَلِّغَ، فَاِِنْ اَنْكَرَ ذَلِكَ فَقُلْ لَهُ: اَنْتَ اَصْدَقُ وَاَبَرُّ، لاَ تَزِيْدَنَّ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا. وَاِنِ اعْتَرَفَ بِذَلِكَ فَرَأَيْتَ لَهُ فِي ذَلِكَ وَجْهًا لِعُذْرٍ فَاقْبَلْ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ تَرَ ذَلِكَ فَقُلْ لَهُ: مَاذَا اَرَدْتَ بِمَا بَلَغَنِي عَنْكَ؟ فَإِنْ ذَكَرَ مَالَهُ وَجْهٌ مِنَ الْعُذْرِ فَاقْبَلْ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ تَرَ لِذَلِكَ وَجْهًا لِعُذْرٍ وَضَاقَ عَلَيْكَ الْمَسْلَكُ فَحِيْنَئِذٍ أَثْبِتْهَا عَلَيْهِ سَيِّئَةً، ثُمَّ أَنْتَ فِي ذَلِكَ بِالْخِيَارِ؛ إِنْ شِئْتَ كَافَأْتَهُ بِمِثْلِهِ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ، وَإِنْ شِئْتَ عَفَوْتَ عَنْهُ، وَالْعَفْوُ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَأَبْلَغُ فِي الْكَرَمِ، لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: } وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ{ سورة الشورى آية 40. فَإِنْ نَازَعَتْكَ نَفْسُكَ بِالْمُكَافَأَةِ فَأَفْكِرْ فِيْمَا سَبَقَ لَهُ لَدَيْكَ مِنَ الْإِحْسَانِ فَعُدَّهَا ثُمَّ ابْدَرْ لَهُ إِحْسَانًا بِهَذِهِ السَّيِّئَةِ، وَلاَ تَبْخَسَنَّ بَاقِيَ إِحْسَانِهِ السَّالِفِ بِهِذِهِ السَّيِّئَةِ، فَإِنَّ ذَلِكَ اَلظُّلْمُ بِعَيْنِهِ. يَا يُوُْنَُسُ إِذَا كَانَ لَكَ صَدِْيْقٌ فَشُدَّ يَدَيْكَ بِهِ فَإِنَّ اتِّخَاذَ الصَّدِيْقِ صَعْبٌ وَمُفَارَقَتُهُ سَهْلٌ.

“Hai Yunus, Jika sampai kepadamu berita dari sahabatmu apa yang engkau tidak suka maka jangan cepat-cepat memusuhinya dan memutuskan kesetiaan, sehingga kamu termasuk orang yang menghilangkan keyakinannya dengan keraguan. Akan tetapi temuilah dan katakan kepadanya: “Telah sampai kepadaku berita tentangmu.”  Hindarilah untuk menyebut nama orang yang menyampaikan kepadamu. Jika dia mengingkari maka katakan: Engkau lebih jujur dan lebih baik. Jangan menambah apapun setelah itu. Jika ia mengakui dan kamu melihat alasannya yang masuk akal maka terimalah. Jika kamu tidak melihat hal itu maka katakan: Apa maksudmu dengan apa yang aku dengar darimu? Jika dia menyebutkan alasan yang masuk akal maka terimalah, namun jika kamu memandang alasannya kurang tepat, dan dadamu sesak untuk menerima, maka pada saat itu tetapkan atasnya satu kesalahan. Kemudian engkau boleh memilih, jika kamu mau kamu boleh membalasnya dengan setimpal, tidak lebih, dan jika kamu mau kamu boleh memaafkannya, dan memaafkan itu lebih dekat kepada takwa dan lebih nyata dalam kemuliaan. Allah berfirman: “Dan balasan keburukan adalah keburukan sepertinya, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya ditanggung oleh Allah.” (QS al-Syura: 40) Bila nafsumu mendorongmu untuk membalasnya maka ingat-ingatlah kebaikannya yang dulu terhadapmu, lalu hitunglah kemudian segerakan  kebaikan untuknya karena keburukan ini, dan janganlah bakhil dalam sisa kebaikannya yang dulu karena keburukannya ini. Karena hal itu adalah kezhaliman wahai Yunus. Jika kamu memiliki sahabat maka pertahankanlah, karena mengangkat sahabat itu sulit dan melepasnya adalah mudah.” (Shifat al-Shafwah: 1/234; Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf: hal. 119-120)

 

6. Hasan al-Bashri

Humaid bertanya kepada Hasan Bashri:

 

يَا أَبَا سَعِيْدُ ، هَلْ يَحْسُدُ الْمُؤْمِنُ ؟ فَقَالَ : « مَا أَنْسَاكَ بَنْي يَعْقُوْبَ ؟ لاَ أَبَا لَكَ ، حَيْثُ حَسَدُوْا يُوْسَفَ » ، قَالَ : « نَعضمْ ، وَلَكِنْ غُمَّ الْحَسَدَ فِي صَدْرِكَ ، فَإِنَّهُ لاَ يَضُرُّكَ مَا لَمْ يَعْدُ لِسَانَكَ ، أَوْ تَعْمَلْ بِهِ يَدُكَ »

“Wahai Abu Said, apakah orang mukmin itu hasud? Maka Ia menjawab: Alangkah cepatnya kamu melupakan putera-putera Nabi Ya’qub! Mereka berbuat hasad kepada Yusuf. Dia berkata: Benar, akan tetapi simpanlah hasad itu di dadamu, sesungguhnya hal itu tidak berakibat buruk bagimu selagi tidak melewati lisanmu dan tidak bekerja tanganmu.” (Abu Syaikh al-Ashbahani, At-Taubikh wat-Tanbih: 1/70, no. 66)

 

7. Muhammad ibn Ka’ab al-Qurazhi -Rahimahullah-

Muhammad al-Qurazhi -Rahimahullah- berkataَ

 

ثَلاَثُ خِصَالٍ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كُنَّ عَلَيْهِ : اَلْبَغْيُ ، وَالنَّكْثُ ، وَالْمَكْرُ  وَقَرَأَ : وَلاَ يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيءُ إِلاَّ بِأَهْلِهِ  ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ  ، فَمَنْ نَكَثَ فَإنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ

Tiga perkara, siapa yang 3 perkara itu ada padanya maka 3 perkara itu menimpa dirinya: aniaya, khianat, dan makar. Lalu dia membaca firman Allah:

"Karena rencana (mereka) yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri." (QS. Fathir: 43)

"Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri;" (QS.Yunus: 23)

"Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri." (QS. al-Fath: 10) ((Abu Syaikh al-Ashbahani, At-Taubikh wat-Tanbih: 1/70, no. 36)

 

* Baca Selengkapnya di Majalah Qiblati Edisi 5 Tahun 3

Copyright © 2010 Qiblati · Kontak · Syarat & Kondisi
Halaman ditampilkan selama 0.0712detik · menggunakan resource memory sebesar 1.9MB